Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Kekhawatiran Konflik di Timur Tengah Meningkat

Pada tanggal 19 September 2023, situasi di Timur Tengah semakin memanas dengan berbagai pernyataan dan kejadian terbaru yang melibatkan beberapa negara di kawasan tersebut. Menurut Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, Israel dituduh telah mendorong kawasan ini ke dalam "jurang perang regional" akibat eskalasi yang berbahaya di berbagai front.

Di Lebanon, Menteri Kesehatan Firass Abiad mengungkapkan dalam konferensi pers di Beirut bahwa setidaknya 32 orang tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangkaian ledakan yang terjadi pada hari Selasa dan Rabu. Ledakan tersebut terjadi di daerah yang merupakan basis kuat Hezbollah, kelompok militan yang aktif di Lebanon.

Turki juga mengeluarkan tuduhan terhadap Israel, menyatakan bahwa negara tersebut berusaha memperluas konflik di Gaza ke Lebanon. Seorang pejabat pertahanan Turki mengatakan kepada Reuters bahwa mereka sedang meninjau keamanan perangkat komunikasi yang digunakan oleh angkatan bersenjata Turki setelah ledakan perangkat genggam di Lebanon.

Komite Hak Anak PBB (CRC) pada hari Kamis menuduh Israel telah melakukan pelanggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap anak-anak Palestina. Tuduhan ini menambah ketegangan di kawasan yang sudah tegang.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas pengumuman terbaru oleh Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, yang menyatakan bahwa Arab Saudi tidak akan menjalin hubungan normal dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina.

Josep Borrell, seorang pejabat tinggi Uni Eropa, juga menyatakan pandangannya setelah Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang menuntut Israel mengakhiri "kehadirannya yang ilegal di wilayah pendudukan Palestina" dalam waktu 12 bulan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengkritik pemerintah Perdana Menteri Inggris yang baru, Keir Starmer, karena dianggap memberikan "pesan yang campur aduk" terkait dukungan Inggris untuk Israel. Dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail, Netanyahu mengecam penangguhan lisensi senjata Inggris kepada Israel sebagai "salah langkah".

Komisioner Jenderal Unrwa, Philippe Lazzarini, mengecam tuduhan bahwa beberapa staf agensinya di Gaza adalah anggota kelompok bersenjata seperti Hamas, menyebutnya sebagai tuduhan yang tidak berdasar dan berbahaya.

Sebuah laporan dari Wall Street Journal, yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa kemungkinan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas tidak akan tercapai sebelum akhir masa jabatan Presiden Joe Biden pada bulan Januari.

library_books Middleeasteye