Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia, mengungkapkan pentingnya regulasi global untuk mencegah kolonialisme baru yang dapat muncul akibat perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI). Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah pidato pada Forum Rektor Perguruan Tinggi se-Rusia di St. Petersburg University, yang merayakan 300 tahun usia kampus tersebut.
Dalam pidatonya yang berjudul "Artificial Intelligence, Kemanusiaan dan Konflik Peradaban", Megawati menekankan bahwa setiap manusia berhak untuk hidup dalam kondisi yang bebas, adil, dan makmur. Dia menyatakan, "Kami percaya bahwa setiap insan manusia selalu mendambakan kehidupan yang bebas, lebih adil, makmur, dan diakui seluruh harkat kemanusiaannya. Dengan berpegang pada nilai-nilai inilah kemajuan teknologi termasuk AI diterapkan."
Megawati juga mengajak seluruh dunia untuk mendengarkan suara kemanusiaan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus. Menurutnya, perkembangan teknologi, termasuk AI, tidak seharusnya digunakan sebagai alat untuk membunuh secara otonom. "Dalam pandangan Paus Fransiskus, keputusan yang menyangkut nasib kehidupan umat manusia tidak boleh digantikan dengan mesin yang tidak memiliki jiwa kemanusiaan itu. Saya sangat sependapat dengan pernyataan tersebut," ujarnya dengan tegas.
Forum Rektor Perguruan Tinggi se-Rusia ini merupakan acara penting yang dihadiri oleh berbagai pemimpin pendidikan dari seluruh dunia. Melalui forum ini, Megawati berharap agar semua pihak dapat bersatu untuk menciptakan regulasi yang dapat melindungi kemanusiaan dari dampak negatif teknologi yang semakin berkembang.
Pesan yang disampaikan oleh Megawati ini menjadi semakin relevan mengingat cepatnya perkembangan teknologi AI yang dapat membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlunya kerjasama internasional dalam pengaturan penggunaan AI menjadi sangat penting agar teknologi ini dapat digunakan untuk kemaslahatan umat manusia dan bukan sebaliknya.
Dengan langkah ini, Megawati berharap agar dunia dapat menghindari resiko-risiko yang dapat muncul akibat penyalahgunaan teknologi, termasuk potensi kolonialisme baru yang dapat merugikan banyak orang.
Megawati Soekarnoputri regulasi global AI kolonialisme baru