Dalam 100 hari pertama kepemimpinan Donald Trump, Paul Dans berpendapat bahwa Trump telah "menutup buku" pada era progresif yang sudah berlangsung selama 90 tahun dan memulai apa yang disebutnya "Zaman Emas" populisme. Dalam esai tamu yang ditulis oleh Dans, yang merupakan arsitek Project 2025, ia menekankan bahwa perubahan ini berarti "memprioritaskan kepentingan Amerika di atas segalanya."
"Apa yang didapatkan warga Amerika dari anggaran federal sebesar 7 triliun dolar?" tanya Dans. Ia berpendapat bahwa alih-alih mendapatkan keuntungan, warga justru melihat negara mereka dalam keadaan yang "runtuh" dan berpotensi tidak mampu mempertahankan diri.
Dans menyerukan perlunya "renovasi" pemerintahan agar sesuai dengan arsitektur konstitusi aslinya. Ia berpendapat bahwa sistem saat ini perlu "dihancurkan dan dibangun kembali" untuk mencapai tujuan tersebut.
Ia menekankan pentingnya memperbaiki struktur pemerintahan agar dapat lebih berfungsi secara efektif dan mengutamakan kepentingan rakyat. Menurutnya, langkah ini sangat penting untuk mengatasi berbagai masalah yang ada saat ini.
Donald Trump, saat menjabat, memang dikenal dengan kebijakan-kebijakan yang kontroversial dan sering kali berfokus pada kepentingan Amerika Serikat di atas kepentingan internasional. Dengan pernyataan Dans, terlihat adanya pemikiran bahwa perubahan besar dalam pemerintahan diperlukan untuk menghadapi tantangan yang ada.
Ilustrasi oleh @dan.will.
Donald Trump Paul Dans populisme New Deal pemerintahan