Pada hari Selasa, terjadi serangan di kawasan Pahalgam, Kashmir yang dikelola India, di mana sekelompok penembak menyerang wisatawan yang sedang berlibur. Serangan ini mengakibatkan setidaknya 26 orang tewas, sebagian besar adalah wisatawan asal India.
Kelompok yang menyebut diri mereka "Resistance Front", yang terkait dengan kelompok teroris Pakistan, Lashkar-e-Taiba, mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi.
Pasca serangan tersebut, muncul seruan dari berbagai kalangan di India, termasuk tokoh publik dan komentator ternama, untuk melakukan balasan terhadap para pelaku serangan dengan cara yang mirip dengan tindakan Israel terhadap Palestina. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ahli mengenai dampaknya terhadap perlakuan negara terhadap warga Kashmir.
Profesor Mohamad Junaid dari Massachusetts College of Liberal Arts mengungkapkan, retorika yang berkembang di media sosial oleh kelompok "kanan Hindu" di India diadopsi dari retorika anti-Muslim yang ada di Barat. Dia menekankan bahwa penggunaan model "Israel" dalam penanganan konflik di Kashmir dapat menciptakan situasi di mana negara merasa kebal terhadap tindakan yang diambilnya terhadap warga Kashmir.
Ini bukan pertama kalinya model "Israel" disebut dalam konteks Kashmir. Pada Juni 2024, penulis India, Anand Ranganathan, juga menyerukan solusi yang mirip dengan yang dilakukan Israel untuk menyelesaikan masalah di Kashmir, saat Israel masih terlibat dalam konflik di Gaza.
Sebelumnya, pada tahun 2019, Konsul Jenderal India di New York, Sandeep Chakravorty, juga membuat perbandingan serupa.
Situasi di Kashmir terus menjadi sorotan, dan dengan meningkatnya ketegangan, banyak yang khawatir tentang bagaimana ini akan mempengaruhi keamanan dan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.
Kashmir Israel serangan wisatawan balas dendam