Ibrahim, seorang mahasiswa cemerlang dari Sudan, memiliki impian untuk menjadi Menteri Pertanian. Namun, semua rencana itu hancur ketika konflik melanda negaranya. Setelah dua tahun menjalani studi di Universitas Khartoum, Ibrahim dan keluarganya terpaksa melarikan diri ke Kosti, sebuah kota di Negara Bagian Nil Putih, untuk mencari perlindungan.
Di Kosti, mereka menemukan tempat berlindung di sebuah sekolah yang ditinggalkan. Bagi Ibrahim, tempat tersebut menjadi pengingat pahit akan pendidikan yang hilang. Saat ini, ia bersama 90% dari 19 juta anak usia sekolah di Sudan yang berisiko kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Ibrahim masih memegang harapan bahwa perdamaian akan segera kembali ke Sudan, sehingga ia bisa melanjutkan studinya dan mengejar cita-citanya.
Saat ini, di seluruh dunia, banyak siswa yang kembali ke sekolah setelah masa liburan. Namun, penting untuk tidak melupakan bahwa di Sudan, banyak ruang kelas telah menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang terpaksa mengungsi akibat konflik.
Marilah kita tetap memperhatikan situasi di Sudan dan mendukung upaya pendidikan bagi anak-anak yang terpengaruh oleh perang.
Ibrahim Sudan pendidikan konflik pengungsi