Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Pandangan Psikoanalisis tentang Rasa Bersalah

Dalam dunia psikoanalisis, terdapat pandangan yang berbeda mengenai rasa bersalah. Menurut teori Freud, rasa bersalah tidak hanya muncul dari tindakan yang kita lakukan, tetapi juga dari hal-hal yang tidak kita lakukan. Ini berarti bahwa orang yang merasa bersalah sering kali adalah mereka yang berusaha keras untuk menjadi baik atau sesuai dengan harapan orang lain.

Freud menjelaskan bahwa superego, yang bisa disebut sebagai pengacara internal kita, terbentuk dari penolakan terhadap dorongan-dorongan kita. Energi yang digunakan oleh superego untuk menyalahkan diri sendiri berasal dari dorongan yang kita abaikan. Jadi, orang yang paling merasa bersalah biasanya adalah mereka yang sangat berusaha untuk mematuhi norma-norma sosial, sementara mereka yang sering melanggar aturan mungkin tidak merasa bersalah sama sekali.

Namun, jika kita hanya melihat rasa bersalah dari sudut pandang internal, kita bisa melewatkan aspek penting lain yang berkaitan dengan hubungan antarpribadi dan generasi. Rasa bersalah sering kali berasal dari pengaruh orang lain, khususnya orang tua kita. Dalam istilah Lacanian, rasa bersalah datang dari Other, yaitu orang lain yang kita anggap penting dalam hidup kita.

Sebagai contoh, kita dapat mengingat pernyataan terkenal Lacan bahwa ‘keinginan adalah keinginan dari Orang Lain’. Ini tidak hanya berarti kita mencari persetujuan dari orang tua kita, tetapi juga bisa berarti kita mengambil alih beban yang mereka bawa. Dalam kasus terkenal yang dikenal sebagai 'Rat Man', pasien Freud mengalami kegelisahan yang berasal dari utang-utang yang tidak terselesaikan dari ayahnya. Ia merasa terjebak dalam tanggung jawab yang seharusnya bukan miliknya.

Banyak dari kita mungkin mengalami situasi serupa tanpa menyadarinya. Kita terjebak dalam tindakan kompulsif dan kebencian terhadap diri sendiri, tanpa tahu mengapa kita merasakannya. Inilah mengapa dalam analisis, sering kali kita melihat ke masa lalu. Kita menemukan bahwa banyak masalah yang kita hadapi saat ini sebenarnya sudah ada sebelum kita lahir.

Dengan memahami asal-usul rasa bersalah dan bagaimana ia dipengaruhi oleh hubungan kita dengan orang tua, kita bisa mulai memahami diri sendiri dan mengatasi perasaan tersebut. Menyadari bahwa kita mungkin membawa beban orang lain, terutama orang tua kita, adalah langkah penting dalam perjalanan untuk menemukan kedamaian batin dan meraih kehidupan yang lebih sehat.

library_books Drjasonchilds