Keluarga Mahsa Amini, seorang wanita Kurdi berusia 22 tahun yang meninggal dunia, dilaporkan dikenakan penahanan rumah pada hari kedua ulang tahun kematiannya. Mahsa Amini meninggal dunia setelah ditangkap oleh pihak berwenang pada bulan September 2022 karena dianggap mengenakan hijab "tidak sesuai". Kematian Amini memicu demonstrasi besar-besaran di seluruh Iran yang menentang perlakuan pemerintah terhadap wanita dan minoritas, serta menentang rezim Republik Islam secara keseluruhan.
Pada hari Jumat, ayah Mahsa Amini menyatakan bahwa ia dan anggota keluarga lainnya berencana untuk mengadakan acara peringatan di makam Amini yang terletak di kota Saqqez. Namun, ia berharap pihak berwenang memberikan izin untuk acara tersebut. Menurut berita dari outlet media Kurdi, RojNews, ayah dan ibu Mahsa Amini telah dikenakan penahanan rumah, dan akses menuju pemakaman telah diblokir. Selain itu, pasukan keamanan juga dikerahkan di seluruh kota Saqqez.
Protes yang dimulai pada tahun 2022 menyebabkan guncangan besar bagi Republik Islam Iran dan memicu respons yang sangat keras dari pemerintah. Menurut kelompok hak asasi manusia, setidaknya 551 orang tewas dalam protes tersebut, sementara ribuan lainnya ditangkap.
Meskipun demonstrasi ditekan, dampak dari protes tersebut masih terasa di Iran. Terutama, semakin banyak wanita yang berani tampil di depan umum tanpa mengenakan hijab, melawan hukum yang ada.
Menjelang ulang tahun kematian Amini, banyak usaha di provinsi Kurdistan dan Azerbaijan Barat yang tutup sebagai bentuk protes. Kota-kota seperti Saqqez, Sanandaj, Divandarreh, Mahabad, dan Bukan turut serta dalam aksi ini.
Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya peringatan ini bagi banyak orang di Iran, dan betapa kuatnya semangat untuk memperjuangkan hak-hak wanita dan keadilan.
Mahsa Amini penahanan rumah protes Iran wanita Kurdi