Majalah AS, The Atlantic, baru-baru ini mempublikasikan hampir seluruh percakapan dari grup chat yang melibatkan pejabat tinggi pemerintah Amerika Serikat. Dalam chat yang dilakukan melalui aplikasi Signal tersebut, terdapat banyak informasi penting mengenai serangan yang direncanakan terhadap kelompok Huthi di Yaman, termasuk waktu dan jenis pesawat yang akan digunakan.
Di antara informasi yang bocor, terdapat pesan dari Menteri Pertahanan AS, Hegseth, yang mengatur waktu pelaksanaan serangan terhadap anggota Huthi. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya rencana yang sedang dibahas di dalam grup tersebut.
The Atlantic mengambil keputusan untuk menerbitkan informasi ini setelah pemerintah Presiden Donald Trump berulang kali membantah bahwa terdapat informasi rahasia yang dibagikan di chat tersebut. Menurut laporan, editor utama The Atlantic, Goldberg, secara tidak sengaja ditambahkan ke dalam grup chat oleh Penasihat Keamanan Nasional, Waltz.
Sebelum menerbitkan screenshot-screenshot tersebut, Goldberg menyatakan bahwa pihaknya telah memberitahu Gedung Putih. Namun, Gedung Putih menyatakan keinginan agar informasi itu tidak diterbitkan.
Presiden Trump sendiri sebelumnya menyebut insiden ini sebagai "kesalahan kecil" dan menegaskan bahwa tidak ada rencana perang yang dibahas dalam chat tersebut. Juru bicara Trump juga menambahkan bahwa Goldberg adalah seorang "Sleazebag" atau orang yang tidak berprinsip, yang dianggapnya merugikan negara dengan cerita-cerita yang dibuatnya. Trump juga menyatakan bahwa kesalahan menambahkan editor tersebut adalah hal yang bisa terjadi.
Insiden ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai keamanan informasi di dalam pemerintahan dan bagaimana komunikasi antara pejabat tinggi dapat dengan mudah terungkap. Publikasi ini menjadi salah satu berita terpanas di media AS saat ini, menciptakan banyak perdebatan tentang transparansi dan keamanan dalam pemerintahan.
The Atlantic AS chat rahasia Huthi serangan