Pada tanggal 16 September 1982, terjadi sebuah tragedi yang mengerikan di kamp pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, yang terletak di pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Dalam peristiwa ini, para pejuang dari partai Kataeb yang merupakan milisi Angkatan Bersenjata Lebanon, memasuki kamp tersebut dengan didampingi oleh pasukan Israel. Pada saat itu, pasukan Israel baru saja menguasai bagian barat Beirut setelah para pejuang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) melakukan penarikan diri.
Selama tiga hari, dari 16 hingga 18 September, di bawah pengawasan tentara Israel, milisi Kristen tersebut melakukan pembantaian yang sangat kejam terhadap penduduk kamp. Korban yang jatuh tidak hanya terdiri dari warga Palestina, tetapi juga banyak orang dari berbagai kewarganegaraan lainnya. Diperkirakan jumlah korban tewas mencapai 3.500 orang, termasuk pria, wanita, dan anak-anak.
Tragedi ini meninggalkan bekas yang mendalam dalam sejarah konflik di Timur Tengah dan diingat sebagai salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Lebanon. Pada tahun 2022, beberapa penyintas dari pembantaian tersebut berbagi kenangan mereka tentang peristiwa mengerikan ini. Mereka menceritakan betapa sulitnya hidup dalam ketakutan dan kehilangan yang mendalam akibat peristiwa tersebut.
Kamp Sabra dan Shatila kini menjadi simbol dari penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina dan pengungsi di seluruh dunia. Pembantaian ini menjadi pengingat akan pentingnya perdamaian dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.
Sabra Shatila pembantaian pengungsi Palestina Beirut