Ukraina mengalami kekecewaan mendalam setelah pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dan Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer. Dalam pertemuan tersebut, pihak Amerika mengonfirmasi bahwa kebijakan mereka untuk membatasi penggunaan sistem misil jarak jauh yang disuplai oleh Barat hanya untuk target di dalam wilayah Ukraina tetap tidak berubah.
Sebelumnya, Ukraina berharap bisa menggunakan misil Storm Shadow/SCALP yang berasal dari Inggris dan Prancis untuk menyerang target di dalam Rusia. Namun, harapan tersebut sirna setelah pernyataan resmi dari pemerintah AS.
Masyarakat Ukraina merasa sangat marah dan kecewa dengan keputusan ini. Menurut hukum internasional, hak untuk membela diri memungkinkan serangan terhadap posisi-posisi dari mana serangan agresor dilancarkan. Hal ini menjadi alasan kuat bagi Ukraina untuk meminta izin penggunaan misil jarak jauh.
Selama ini, pemerintahan Biden telah beberapa kali mengubah alasan mengapa mereka menolak permohonan Ukraina untuk menggunakan misil dengan jangkauan lebih jauh. Kebijakan ini menimbulkan banyak pertanyaan dan ketidakpuasan, bukan hanya di kalangan pejabat Ukraina, tetapi juga oleh banyak pengamat internasional yang melihat pentingnya dukungan militer untuk Ukraina dalam menghadapi agresi.
Keputusan ini menimbulkan dampak besar pada strategi pertahanan Ukraina, yang sedang berjuang melawan invasi Rusia. Tanpa akses ke misil jarak jauh, Ukraina merasa tangan mereka terikat dalam upaya melindungi wilayahnya.
Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya hubungan internasional dan keputusan-keputusan yang diambil oleh negara-negara besar. Rakyat Ukraina dan dunia internasional terus mengamati perkembangan ini dengan harapan akan ada perubahan dalam kebijakan yang dapat membantu Ukraina dalam mempertahankan kedaulatannya.
Ukraina Biden rudal Storm Shadow Starmer