Ribuan orang melakukan protes di berbagai kota di Prancis pada hari Sabtu untuk mendukung para korban kekerasan seksual. Aksi ini dipicu oleh kasus Gisèle Pélicot, seorang perempuan berusia 72 tahun yang pengalamannya mengejutkan dunia.
Selama lebih dari sepuluh tahun, Gisèle telah dibius dan dipaksa suaminya untuk berhubungan seksual dengan lebih dari 80 orang asing. Kini, Gisèle telah bercerai dari suaminya dan berani membuka kasus ini di hadapan publik.
Sekitar 30 aksi protes diorganisir oleh kelompok feminis di kota-kota besar seperti Paris dan Marseille. Keberanian Gisèle untuk menghadapi pengadilan telah memicu dukungan luas bagi para korban kekerasan dan pelecehan seksual.
Gisèle mengungkapkan bahwa ia telah mengalami pemerkosaan sekitar 200 kali antara tahun 2011 hingga 2020 tanpa sepengetahuannya. Dalam 92 kasus, pelaku adalah orang asing, sementara beberapa di antaranya adalah suaminya sendiri. Suaminya, Dominique Pélicot, yang mengaku bersalah, sedang diadili bersama 50 pria lainnya yang juga dituduh memperkosanya. Jika terbukti bersalah, mereka bisa menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun.
Dalam persidangan minggu lalu, Gisèle menjelaskan bagaimana ia mengalami masalah ingatan yang tidak bisa dijelaskan dan masalah kesehatan ginekologis selama bertahun-tahun sebelum mengetahui bahwa suaminya telah menyalahgunakannya.
Persidangan ini dijadwalkan berlangsung selama empat bulan, tetapi ditangguhkan pada hari Kamis setelah Dominique Pélicot jatuh sakit pada hari ia seharusnya diinterogasi. Sidang akan dilanjutkan pada hari Senin, namun ketua hakim, Roger Arata, telah memperingatkan bahwa persidangan mungkin harus ditunda jika Dominique masih tidak mampu memberikan dan mendengar bukti.
Aksi protes ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya mendukung korban kekerasan seksual dan mengatasi masalah ini secara serius.
Prancis unjuk rasa kekerasan seksual Gisèle Pélicot korban