Perubahan Besar dalam Dunia Pertambangan Kripto
Di tahun 2021, China dikenal sebagai ibu kota kripto dunia. Pada puncaknya, negara ini menyuplai hampir 70% dari total pertambangan cryptocurrency di seluruh dunia. Namun, pada bulan Mei tahun yang sama, China mengambil keputusan untuk mengubah arah kebijakan terhadap kripto.
Keputusan ini membuat banyak perusahaan pertambangan kripto yang beroperasi di China terpaksa meninggalkan negara tersebut. Banyak dari mereka kemudian berpindah ke Kazakhstan. Negara ini menawarkan sumber energi yang melimpah, terutama dari batu bara, yang sangat dibutuhkan untuk proses pertambangan.
Namun, pada akhir tahun 2021, muncul protes besar-besaran dari masyarakat terhadap keberadaan pertambangan kripto di Kazakhstan. Akibatnya, pemerintah setempat memutuskan untuk memutus sambungan listrik bagi perusahaan-perusahaan pertambangan tersebut, yang mengakibatkan mereka harus mencari lokasi baru untuk beroperasi.
Setelah meninggalkan Kazakhstan, banyak perusahaan pertambangan kripto akhirnya menuju Amerika Serikat. Saat ini, Amerika Serikat telah menjadi pusat utama untuk pertambangan bitcoin, menyuplai sekitar 40% dari total hashrate global. Angka ini meningkat dari 17% saat puncaknya di China pada tahun 2021.
Perubahan ini menunjukkan bagaimana cepatnya dinamika industri kripto dapat berubah. Dari yang awalnya dikuasai oleh satu negara, kini Amerika Serikat mengambil alih sebagai pemimpin baru dalam pertambangan kripto. Perkembangan ini tentunya memberikan dampak yang besar terhadap ekonomi dan industri teknologi di AS.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai bagaimana pertambangan kripto mempengaruhi Amerika Serikat, simak artikel lebih lanjut di sumber yang tersedia.
Penulis: Taylor Dorrell
(Sumber: Anson Chan/BI)
China pertambangan kripto Amerika Serikat bitcoin cryptocurrency