Sejak protes pro-demokrasi meletus di Hong Kong pada tahun 2019, pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, telah berusaha untuk mengembalikan kontrol atas wilayah tersebut. Dalam banyak hal, upayanya berhasil. Kini, kota itu jauh lebih tenang dibandingkan dengan masa-masa kerusuhan tersebut.
Akan tetapi, langkah-langkah yang diambil untuk membawa ketertiban—terutama dengan menimbulkan rasa takut di kalangan rakyat liberal—menyimpan risiko besar bagi masa depan ekonomi Hong Kong. Ketika Rombongan Bisnis Amerika di Hong Kong melakukan survei terhadap anggotanya di akhir tahun 2023, hasilnya cukup mengejutkan. Sekitar 60% responden mengungkapkan bahwa mereka akan berhati-hati dalam memperluas bisnis mereka di kota tersebut.
Selama ini, kedekatan Hong Kong dengan daratan Tiongkok menjadi daya tarik utama bagi para investor asing. Namun, sekarang para eksekutif asing mulai khawatir bahwa Hong Kong semakin mirip dengan daratan Tiongkok, yang dikenal dengan kontrol ketat dan kebebasan yang terbatas.
Pergeseran ini bisa berdampak pada hubungan ekonomi internasional Hong Kong, yang selama ini telah menjadi pusat keuangan yang penting di Asia. Keputusan para pelaku bisnis untuk menahan langkah ekspansi bisa mempengaruhi banyak orang, termasuk pekerja dan bisnis kecil yang bergantung pada investasi baru.
Hong Kong protes Xi Jinping ekonomi