Agensi PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengungkapkan bahwa hanya tiga dari delapan belas sumur air di Deir al-Balah, sebuah kota di Gaza, yang masih berfungsi. Hal ini menyebabkan krisis air yang parah, dengan kekurangan air mencapai 85%. Kebanyakan penduduk tidak hanya hidup dalam ketakutan, tetapi juga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti makanan dan air.
Seiring dengan meningkatnya operasi militer Israel di Deir al-Balah, semakin banyak penduduk Palestina yang terpaksa mengungsi. Selama beberapa hari terakhir, militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi baru bagi pengungsi Palestina yang berada di zona kemanusiaan yang semakin menyusut di Jalur Gaza tengah. Serangan udara di wilayah tersebut juga semakin intens.
Perintah baru ini berdampak pada sebagian wilayah kota Deir al-Balah, tempat sebagian besar pengungsi Palestina mencari perlindungan selama berbulan-bulan, terutama setelah invasi Rafah yang terjadi pada bulan Mei. Deir al-Balah sebelumnya menjadi bagian dari zona kemanusiaan yang dianggap aman untuk penduduk sipil. Namun, sejak perang dimulai lebih dari sepuluh bulan yang lalu, militer Israel sering melancarkan bombardir di area ini.
Ratusan ribu pengungsi Palestina kini mencari tempat berlindung di Deir al-Balah. Mereka tinggal di tenda darurat, sekolah, dan fasilitas sipil lainnya. Dengan adanya perintah evakuasi terkini, banyak keluarga yang terpaksa berpindah kembali, mencari tempat baru untuk berlindung di dalam zona kemanusiaan yang semakin kecil ukurannya dalam beberapa minggu terakhir.