Pada bulan Juli, Elon Musk, CEO X, mengungkapkan kekhawatirannya tentang lingkungan di San Francisco. Dalam sebuah cuitannya, dia menyatakan, "Saya sudah cukup menghindari geng-geng pecandu narkoba yang kekerasan hanya untuk masuk dan keluar gedung." Musk merasa bahwa lingkungan sekitar terlalu menakutkan dan pajak terlalu tinggi. Ia pun memutuskan untuk memindahkan kantor X ke Austin, Texas.
Situasi ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada tahun 2010. Ketika Twitter, yang kemudian berganti nama menjadi X, mengancam akan meninggalkan San Francisco, pemerintah kota berusaha keras agar perusahaan tersebut tetap berada di sana. Mereka memberikan yang dikenal sebagai “Twitter Tax Break”. Ini berarti kota tersebut melepaskan pajak hingga jutaan dolar untuk menarik perusahaan tersebut membuka kantornya di San Francisco.
Meskipun upaya tersebut berhasil dalam jangka pendek, kenyataannya tidak berlangsung lama. Kini, saat X bersiap untuk meninggalkan lokasi di San Francisco, Market Street masih menghadapi masalah yang sama seperti sebelumnya. Lingkungan tersebut hingga kini masih dilanda masalah keamanan dan ekonomi, yang tidak kunjung membaik dengan kehadiran Twitter.
Pemindahan ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi kota-kota besar dalam mempertahankan perusahaan teknologi. Problem sosial seperti kekerasan dan keamanan sering kali menjadi faktor penentu bagi perusahaan saat memilih lokasi. Dengan adanya pemindahan X, ini menimbulkan pertanyaan apakah San Francisco akan mampu memperbaiki kondisi tersebut sebelum lebih banyak perusahaan memilih untuk meninggalkan mereka.
Elon Musk X San Francisco Austin Twitter