Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Diskusi Online tentang Proyek Surabaya Waterfront Land

Proyek Surabaya Waterfront Land adalah sebuah inisiatif besar yang bertujuan untuk mengembangkan kawasan pesisir di Surabaya. Proyek ini diusulkan untuk menciptakan sebuah 'waterfront city' atau kota tepi laut, yang berlokasi dari Kenjeran hingga ke pantai timur Surabaya. Dengan nilai investasi mencapai 72 triliun rupiah, proyek ini akan menggunakan dana non-APBN atau dana swasta, dan dilaksanakan oleh PT. Granting Jaya.

Proyek ini mencakup reklamasi lahan seluas 1.084 hektar di wilayah laut, membentang dari kawasan Kenjeran di Surabaya utara hingga Rungkut. Wilayah ini akan dibagi menjadi empat blok yang berbeda. Meskipun pemerintah dan PT. Granting Jaya telah mengadakan sejumlah sosialisasi, terdapat kekhawatiran di antara masyarakat pesisir, terutama di Kenjeran, mengenai dampak negatif dari proyek ini.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur menyatakan bahwa proyek ini berpotensi menambah kerusakan lingkungan di kawasan tersebut. Salah satu kekhawatiran utama adalah penggundulan area mangrove, yang berfungsi untuk melindungi pantai dan mendukung ekosistem laut. Pengurangan area mangrove dapat mengakibatkan banjir rob, yaitu genangan air laut yang masuk ke daratan, serta mengganggu kehidupan biota laut di sekitar pantai.

Kekhawatiran ini menjadi lebih mendalam mengingat banyak warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan. Jika ekosistem laut terganggu, maka hasil tangkapan ikan mereka akan semakin sedikit. Pertanyaan pun muncul di kalangan masyarakat mengenai tujuan utama dari proyek ini, apakah bagi kesejahteraan rakyat atau hanya untuk kepentingan elit tertentu?

Untuk membahas isu-isu ini lebih lanjut, WALHI Jawa Timur, bersama WALHI Nasional, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia, Arsitek Komunitas Jawa Timur, Akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan nelayan Nambangan, mengundang masyarakat untuk bergabung dalam diskusi online yang akan diadakan pada tanggal 30 Agustus 2024. Diskusi ini akan berlangsung melalui platform Zoom.

Masyarakat diharapkan dapat berdiskusi dan mengekspresikan pandangan mereka tentang bagaimana proyek ini akan mempengaruhi kehidupan mereka dan lingkungan sekitar.

library_books Walhijatim