Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah membantu proses pemulangan jenazah Aysenur Ezgi Eygi, seorang aktivis pro-Palestina berusia 26 tahun yang terbunuh oleh tembakan Israel saat mengikuti protes di Tepi Barat yang diduduki. Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara Israel dan Turki.
Eygi lahir di Turki, namun pindah ke AS pada usia satu tahun dan dibesarkan di kawasan Seattle, Negara Bagian Washington. Kewarganegaraan ganda yang dimilikinya menunjukkan perbedaan mencolok antara kedua negara yang merupakan sekutu NATO.
Pernyataan awal Presiden AS Joe Biden mengenai kematian Eygi terkesan lemah. Ia menyatakan bahwa peluru yang mengenai Eygi tampak "memantul dari tanah". Namun, seiring meningkatnya kritik, Biden mengubah sikapnya. Ia menyatakan, “Saya sangat marah dan merasa sedih mendalam atas pembunuhan ini," yang ia sebut sebagai "eskalasi yang tidak perlu."
Perbedaan pandangan antara Biden dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, semakin terlihat. Erdogan secara terbuka mengecam Israel, menyebut tindakan itu sebagai "pembunuhan keji terhadap anak muda kami" dan berjanji untuk mengambil "langkah hukum" termasuk melaporkannya kepada Mahkamah Internasional di Den Haag.
Pada hari Senin, Kementerian Luar Negeri Turki mengumumkan bahwa mereka "bekerja untuk membawa jenazah Eygi langsung ke Turki dengan pesawat untuk menghindari penundaan lebih lanjut". Pernyataan ini dipandang oleh pihak AS sebagai usaha Turki untuk mendapatkan keuntungan politik dari upaya diplomasi AS yang bertujuan memastikan pemulangan jenazah Eygi sesuai permintaan keluarganya.
Situasi ini menandai ketegangan yang semakin meningkat antara Israel dan Turki, yang berusaha mengendalikan dampak dari peristiwa tragis ini. Sementara penejangan menunggu pemulangan jenazah Eygi, catatan diplomasi antara kedua negara terus berlanjut.
pemulangan jenazah Aysenur Eygi diplomasi AS konflik Israel-Turki