Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Pertemuan Raja Abdullah dengan Donald Trump: Perubahan Suasana

Washington D.C. - Raja Abdullah II dari Yordania telah melakukan dua kali pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Gedung Putih. Pertemuan pertama pada tahun 2017 menjadi momen bersejarah, karena Raja Abdullah adalah pemimpin Arab pertama yang diundang untuk bertemu Trump. Saat itu, Trump memuji Raja Abdullah sebagai "pejuang hebat" yang berperan penting dalam stabilitas kawasan.

Namun, pertemuan kedua berlangsung dengan suasana yang jauh berbeda. Raja Abdullah terlihat tidak nyaman saat Trump membahas rencananya untuk mengusir warga Gaza ke Mesir dan Yordania. Dalam pertemuan itu, Trump juga menyampaikan ancaman terselubung untuk memotong bantuan tahunan Amerika kepada Yordania.

Selama beberapa dekade, pejabat Amerika menggambarkan pemimpin Mesir dan Yordania sebagai pilar stabilitas di kawasan Timur Tengah. Namun, perubahan sikap Trump yang lebih transaksional membuat hubungan ini menjadi rumit. Trump dikenal sebagai presiden yang suka memberikan tekanan kepada sekutunya, dan cara ini ternyata tidak selalu berhasil dalam menjaga hubungan baik.

Contohnya, ketika Trump mengancam akan mengenakan tarif kepada Kanada, pemerintah Kanada dapat menggunakan insentif dan ancaman untuk membujuknya mundur. Namun, Yordania dan Mesir tidak memiliki kekuatan tawar yang sama dalam situasi ini.

Keadaan ini menunjukkan betapa rentannya hubungan internasional, terutama bagi negara-negara kecil di kawasan yang sangat bergantung pada bantuan luar negeri. Raja Abdullah dan pemimpin lainnya kini harus menghadapi tantangan baru dalam menjaga stabilitas di tengah perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

library_books Theeconomist