Rusia mengalami kenaikan signifikan dalam surplus perdagangannya. Selama periode Januari hingga Juli 2024, surplus perdagangan Rusia tercatat meningkat sebesar 20,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar 1.347 triliun rupiah. Ini berdasarkan data terbaru dari Layanan Bea Cukai Federal (FCS) Rusia.
Berdasarkan informasi yang dirilis pada Rabu, 11 September 2024, ekspor Rusia selama tujuh bulan pertama tahun ini mencapai 3.700 triliun rupiah, meningkat 0,7 persen. Sementara itu, impor Rusia justru mengalami penurunan hingga 7,8 persen menjadi sekitar 2.410 triliun rupiah.
Melihat lebih dekat ke mitra dagangnya, ekspor Rusia ke Eropa mengalami penurunan tajam sebesar 30,6 persen. Angka ini mencapai sekitar 580 triliun rupiah. Namun, Rusia menunjukkan performa yang lebih baik dalam konteks ekspor ke Asia, yang mencatat kenaikan 8,5 persen, dengan total pengiriman mencapai sekitar 2.800 triliun rupiah.
Ekspor ke Afrika juga menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan, melonjak 27,1 persen. Hal ini membawa total ekspor ke benua tersebut mencapai sekitar 220 triliun rupiah. Tak kalah menarik, Rusia juga meningkatkan ekspor ke Benua Amerika, dengan kenaikan 13,5 persen, sehingga totalnya menjadi sekitar 115 triliun rupiah.
Kenaikan surplus perdagangan ini terjadi di tengah berbagai sanksi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat. Meski mengalami penurunan ekspor ke Eropa, Rusia masih mampu mencari peluang di pasar lain, terutama di Asia dan Afrika. Peluang ini menunjukkan ketahanan ekonomi Rusia di tengah tantangan global.
surplus perdagangan Rusia ekspor impor