Pada 10 September 2023, situasi di Gaza semakin memprihatinkan setelah serangan besar-besaran oleh Israel di zona kemanusiaan Mawasi. Sementara tim penyelamat terus mencari dan mengevaluasi jumlah korban yang jatuh, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa 19 warga Palestina kehilangan nyawa mereka akibat serangan tersebut.
Namun, jumlah tersebut diperkirakan lebih tinggi. Menurut laporan, serangan udara menyebabkan hilangnya 21 tubuh yang tidak terdaftar di rumah sakit, sehingga total korban dapat melebihi angka resmi. Tim penyelamat di Jabalia, wilayah utara Gaza, sedang berusaha menggali puing-puing bangunan untuk menemukan korban yang mungkin masih terperangkap atau mencari kemungkinan adanya penyintas.
Selama 24 jam terakhir, Israel melanjutkan serangannya di Gaza, menewaskan setidaknya 46 orang Palestina. Di wilayah Tepi Barat yang diduduki, pasukan militer Israel juga menewaskan dua warga Palestina dalam sebuah operasi di Tulkarm. Selain itu, dua tenaga medis Palestina ditangkap di kota tersebut.
Presiden AS, Joe Biden, menyebut kematian Aysenur Ezgi Eygi, seorang warga negara AS-Turki, sebagai "kecelakaan". Namun, saksi mata mengklaim bahwa Eygi ditembak sengaja di kepala oleh pasukan Israel. Sekretaris Negara AS, Antony Blinken, mendesak Israel untuk melakukan "perubahan mendasar" mengenai cara mereka melaksanakan operasi militer di wilayah Tepi Barat setelah insiden tersebut.
Reaksi negatif juga bermunculan, terutama setelah seorang legislator dari Florida merayakan kematian Eygi, menyatakan bahwa hal itu berarti "satu teroris Muslim lebih sedikit". Berbagai kelompok hak Muslim menyerukan agar legislator tersebut diskors berkaitan dengan komentarnya.
Pemerintah Afrika Selatan mengumumkan rencananya untuk mengajukan memorial di Pengadilan Internasional, melanjutkan kasus yang menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina.
Selain itu, pihak pertahanan sipil Palestina melaporkan bahwa setidaknya tujuh orang, termasuk tiga anak-anak dan dua wanita, tewas akibat serangan Israel pada sebuah gedung tinggal di kamp pengungsi Jabalia, menambah daftar panjang korban dalam konflik yang sedang berlangsung ini.
Israel Palestina serangan kemanusiaan Jabalia