Dana Moneter Internasional (IMF) baru saja merilis hasil asesmen mengenai kondisi ekonomi dan sektor keuangan Indonesia melalui program Financial Sector Assessment Program (FSAP). Dalam laporan tersebut, IMF mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam kondisi yang sehat dan memiliki pertumbuhan yang kuat.
Menurut laporan IMF, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2024 tercatat sebesar 5,05% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan stabilitas dan daya tahan perekonomian Indonesia meskipun di tengah tantangan global yang ada. Bank Indonesia juga memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024 akan berada dalam kisaran 4,7% hingga 5,5%.
Kondisi sektor keuangan Indonesia juga cukup baik. Likuiditas perbankan pada Juli 2024 masih memadai, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi yakni 25,56%. Selain itu, pertumbuhan kredit juga tetap kuat, mencapai 12,40% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat sebesar 7,72%.
Asesmen ini mencakup beberapa aspek penting, seperti stabilitas sistem keuangan, tata kelola dan pengawasan sektor keuangan, manajemen krisis, serta pengembangan sektor keuangan. Berdasarkan semua indikator ini, IMF memberikan “rapor biru” kepada ekonomi dan keuangan Indonesia.
Capaian ini tidak lepas dari kerjasama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, OJK, LPS, dan otoritas terkait lainnya. Juga, dukungan para pelaku usaha di sektor jasa keuangan, termasuk para masyarakat yang aktif berkontribusi untuk mendukung kebijakan Bank Indonesia.
Dari informasi ini, bagaimana cara terbaik bagi masyarakat untuk mendukung ekonomi dalam negeri? Setiap tindakan kecil memiliki makna yang besar bagi kemajuan perekonomian Indonesia.
IMF ekonomi Indonesia pertumbuhan sektor keuangan