Di era media sosial saat ini, banyak orang sering menunjukkan barang-barang baru yang mereka beli. Namun, tahun ini, muncul tren yang berbeda, yaitu "No Buy 2025". Tren ini mengajak orang untuk membeli barang baru sesedikit mungkin. Beberapa orang membuat daftar barang-barang tertentu yang tidak akan mereka beli, sedangkan yang lainnya berjanji untuk tidak membeli barang-barang yang bukan kebutuhan utama.
Tren ini semakin populer di media sosial karena dipicu oleh alasan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selama dua tahun terakhir, harga barang meningkat dan banyak keluarga mengalami utang yang semakin tinggi. Selain itu, musim liburan yang lebih singkat membuat banyak orang, terutama yang berpenghasilan rendah, harus mengurangi pengeluaran mereka.
Daripada terus membeli barang-barang baru yang viral, banyak orang mulai menyadari bahwa lebih baik fokus pada apa yang sudah mereka miliki. Salah satu contohnya adalah Donavan Harnage, seorang analis berusia 33 tahun dari Charlotte, Carolina Utara. Ia melihat tren "no buy" di TikTok pada bulan Desember dan memutuskan untuk memeriksa keuangannya sendiri.
Setelah menjadi pemilik rumah tahun lalu, Donavan menghabiskan banyak uang untuk dekorasi dan perabotan. Namun, tahun ini ia ingin mengurangi kunjungannya ke toko-toko seperti Target dan TJ Maxx, mengurangi pengeluaran untuk belanja bahan makanan, dan membatalkan layanan streamingnya—kecuali Netflix. "Jika saya tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan toko, saya bisa mengontrol bagaimana saya menghabiskan uang saya," ujarnya.
Tren "No Buy 2025" ini menjadi pengingat bagi banyak orang untuk lebih bijak dalam berbelanja dan mengelola keuangan mereka.
no buy tren media sosial berhemat pengeluaran