Pada bulan Desember, harga telur grade-A besar mencapai $4.15 per lusin. Angka ini meningkat tajam dari $2.51 pada tahun lalu. Kenaikan harga ini membuat banyak konsumen merasa khawatir, karena telur merupakan salah satu bahan makanan yang sering mereka beli.
Menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja, harga rata-rata telur belum pernah mencapai angka di bawah $3 sejak bulan Juni tahun lalu. Bahkan, harga telur tidak pernah di bawah $2 sejak awal tahun 2022. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen harus membayar lebih untuk telur, yang merupakan makanan pokok bagi banyak keluarga.
Salah satu penyebab utama dari peningkatan harga ini adalah flu burung yang berkepanjangan. Penyakit ini telah mengurangi jumlah pasokan telur yang tersedia di pasaran. Selain itu, ada juga faktor lain yang berkontribusi, seperti meningkatnya permintaan masyarakat akan telur, serta dorongan untuk beralih ke telur yang diproduksi tanpa kandang.
Dengan adanya masalah pasokan dan permintaan yang tinggi, banyak ahli memperkirakan bahwa harga telur mungkin tidak akan turun dalam waktu dekat. "Tidak ada yang tahu kapan harga akan kembali normal," kata seorang pengamat ekonomi. Hal ini membuat konsumen semakin resah, terutama bagi mereka yang mengandalkan telur sebagai sumber protein.
Dengan situasi ini, tampaknya tidak ada solusi instan untuk mengatasi masalah kenaikan harga telur. Konsumen disarankan untuk lebih bijak dalam mengatur belanja mereka, terutama dalam memilih bahan makanan yang terjangkau.
Ketidakpastian ini telah membuat para konsumen berpikir dua kali sebelum membeli telur. Mungkin, kita harus bersiap untuk menghadapi harga telur yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.
harga telur flu burung permintaan tinggi kenaikan harga