Pada tanggal 24 Januari 1954, sebuah peristiwa penting terjadi dalam sejarah penerbangan Indonesia. Pemerintah Rusia melalui Duta Besar Rusia untuk Indonesia menyerahkan sebuah pesawat bernama Ilyusin IL-14 Avia kepada Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Penyerahan pesawat ini berlangsung di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Pesawat Ilyusin IL-14 adalah pesawat angkut sedang yang memiliki dua mesin. Setelah diserahkan, Presiden Soekarno memberikan nama "Dolok Martimbang" kepada pesawat tersebut. Pesawat ini berfungsi untuk mendukung perjalanan dinas Presiden Soekarno baik dalam negeri maupun luar negeri. Dengan nomor register T-401, Dolok Martimbang menjadi simbol penting bagi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).
Keberadaan Dolok Martimbang sebagai pesawat kepresidenan menandai tonggak sejarah dalam perkembangan AURI. Pesawat ini juga menjadi embrio bagi lahirnya Skadron Angkut Khusus, yang dikenal sebagai Skadron Udara 17. Ini menunjukkan bahwa pesawat tersebut tidak hanya berfungsi untuk transportasi, tetapi juga memiliki makna strategis bagi kekuatan udara Indonesia.
Namun, pada tahun 1962, Dolok Martimbang berhenti beroperasi. Pesawat ini kemudian digantikan oleh pesawat C-140 Jet Star yang lebih modern. Meskipun sudah tidak beroperasi, Dolok Martimbang tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah penerbangan Indonesia.
Sebagai bentuk penghargaan, satu unit pesawat IL-14 Avia dijadikan monumen di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pada tahun 2017, monumen ini dipindahkan ke Muspusdirla Jogjakarta untuk menjadi koleksi bersejarah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pesawat ini dalam sejarah bangsa.
Dengan demikian, pesawat Ilyusin IL-14 Avia tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga simbol dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan pengembangan Angkatan Udara. Masyarakat diharapkan dapat mengenang dan menghargai sejarah ini, agar dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Ilyusin IL-14 pesawat kepresidenan AURI Soekarno sejarah