Korea Selatan kini sedang berjuang melawan gelombang baru kejahatan seks digital, yaitu pornografi deepfake yang bukan hanya menyerang selebriti. Sebuah laporan dari media lokal melaporkan ditemukan sebuah ruang obrolan di Telegram yang memiliki puluhan ribu pengguna. Mereka membuat dan melihat konten dewasa berbasis AI yang menggambarkan wanita yang mereka kenal dalam kehidupan nyata.
Pornografi deepfake adalah teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan untuk memanipulasi gambar atau video sehingga menampilkan seseorang dalam situasi yang tidak didukung oleh kenyataan. Hal ini menimbulkan masalah serius terkait privasi dan keselamatan, terutama bagi wanita.
Penemuan ruang obrolan ini datang empat tahun setelah skandal ruang obrolan "perbudakan seks", di mana banyak wanita menjadi korban eksploitasi seksual di dunia digital. Kasus ini mengguncang masyarakat Korea Selatan dan mendorong pemerintah untuk berjanji mengambil tindakan tegas terhadap kejahatan semacam ini.
Namun, banyak yang bertanya-tanya mengapa kejahatan seks digital begitu umum di masyarakat Korea Selatan. Budaya patriarki, akses mudah ke teknologi, dan kurangnya sanksi yang tegas bagi pelanggar menambah kompleksitas masalah ini. Kejahatan digital seperti ini dapat memiliki dampak yang menghancurkan bagi korban, termasuk trauma psikologis dan pengucilan sosial.
Pemerintah kini menghadapi tantangan besar dalam menanggulangi masalah ini, dan masyarakat menuntut langkah-langkah nyata untuk melindungi hak-hak perempuan di dunia maya.
kejahatan seks digital pornografi deepfake Korea Selatan