Penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin meluas, namun dampak lingkungan dari teknologi ini patut dicermati. Menurut estimasi, satu permintaan atau prompt ChatGPT mengkonsumsi hampir 3 watt-jam energi. Bandingkan dengan pencarian di Google yang hanya menggunakan 0,3 watt-jam.
Jika kita melihat angka ini lebih jauh, energi yang dibutuhkan untuk menangani ratusan juta permintaan ChatGPT setiap hari sama dengan energi yang dapat mendukung 33.000 rumah tangga di Amerika Serikat. Ini adalah angka yang sangat besar dan menunjukkan betapa besar dampak penggunaan AI.
Tidak hanya penggunaan harian yang perlu diperhatikan. Energi yang digunakan untuk melatih model AI juga sangat signifikan, meskipun sulit untuk dihitung secara tepat. Laporan keberlanjutan Google untuk tahun 2024 menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca mereka meningkat sebesar 48% antara tahun 2019 dan 2023, dengan sebagian besar peningkatan terjadi setelah tahun 2022.
Microsoft juga mencatat kenaikan emisi karbon yang signifikan, yakni sebesar 29,1% sejak tahun 2020. Menurut prediksi Goldman Sachs, emisi karbon di pusat data dapat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030.
Apa yang menyebabkan lonjakan ini? Seperti yang dinyatakan dalam laporan Google, \"Mengurangi emisi mungkin menjadi tantangan karena meningkatnya permintaan energi dari intensitas komputasi AI yang lebih tinggi.\"
Walaupun dampak lingkungan dari teknologi ini cukup besar, perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Microsoft cenderung tidak membicarakan penggunaan energi dan jejak karbon dari alat AI mereka. Mungkin mereka memiliki alasan yang baik. Jika kita mengetahui harga lingkungan dari produk AI, kita mungkin akan mulai saling menegur atas penggunaan kita yang berlebihan.
AI Konsumsi Energi Emisi Gas Rumah Kaca