Aysenur Ezgi Eygi, seorang aktivis berusia 26 tahun asal Amerika Serikat dan Turki, dilaporkan tewas akibat tembakan Israel di Tepi Barat. Insiden ini terjadi saat dia ikut serta dalam aksi protes menolak perluasan pemukiman ilegal Israel di kota Beita, yang terletak di selatan Nablus.
Menurut laporan dari agensi berita Palestina, Wafa, Eygi dan peserta lainnya sedang mengikuti demonstrasi mingguan ketika kejadian itu berlangsung. Seorang aktivis yang bersama Eygi pada saat itu mengungkapkan kepada Middle East Eye bahwa mereka dihadapkan pada situasi yang berbahaya. Saat itu, tentara Israel melepaskan gas air mata kepada kerumunan, dan sebagai reaksi, mereka mundur dari lokasi tersebut. Namun, tidak lama kemudian, dua tembakan peluru tajam dilepaskan ke arah kelompok tersebut, salah satunya mengenai kepala Eygi.
Aktivis tersebut menjelaskan, "Ketika dia ditembak, dia hanya berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa bersama seorang wanita lainnya – itu adalah tembakan yang disengaja karena mereka menembak dari jarak yang sangat jauh." Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya situasi dan berpotensi meningkatkan ketegangan yang ada di wilayah tersebut.
Setelah kejadian tragis ini, banyak pengguna media sosial, termasuk Menteri Pertama Skotlandia, Hamza Yousaf, mengkritik media, terutama BBC, yang dianggap tidak menyebutkan pelaku penembakan dalam berita mereka. Hal ini menunjukkan pentingnya akurasi dalam pelaporan media, terutama terkait dengan isu-isu yang sangat sensitif seperti konflik di Timur Tengah.
Tragedi ini menjadi pengingat akan bahayanya yang dihadapi aktivis hak asasi manusia dalam memperjuangkan keadilan di wilayah yang terus dilanda konflik.
Aktivis Tepi Barat Aysenur Eygi protes