Ekonomi Arab Saudi terus menunjukkan pertumbuhan yang positif, meskipun terjadi gejolak akibat perang antara Israel dan Gaza serta serangan oleh kelompok Houthi di Laut Merah. Hal ini menunjukkan bahwa upaya kerajaan untuk menjauhkan diri dari ketegangan regional mulai membuahkan hasil.
Menurut laporan terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF), "peristiwa geopolitik di Timur Tengah sejauh ini tidak berdampak besar pada ekonomi Saudi." Laporan ini mencatat bahwa ekspor minyak Arab Saudi tidak tergantung pada rute perdagangan di Laut Merah, yang mana telah menjadi target serangan Houthi yang mengeklaim melakukan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza.
Selain itu, sektor pariwisata di Arab Saudi tetap kuat, menunjukkan daya tarik negara ini di mata wisatawan global. IMF menilai bahwa sistem perbankan Saudi yang stabil, meningkatnya kepemilikan rumah, serta pertumbuhan ekonomi non-minyak yang "kokoh" menjadi faktor penting dalam performa ekonomi negara tersebut.
Meskipun ada ketegangan akibat perang di Gaza yang mempengaruhi kestabilan ekonomi di negara-negara lebih miskin seperti Mesir, Lebanon, dan Yordania, Arab Saudi berhasil menjaga ekonominya tetap bertahan.
Arab Saudi menggunakan laporan IMF ini sebagai bukti sukses bahwa kerajaan telah berhasil menghindari terjebak dalam konflik Gaza. Belakangan ini, kerajaan tersebut semakin vokal dalam menyerukan agar Israel mengambil langkah menuju pembentukan negara Palestina. Namun, mereka juga menangguhkan pembicaraan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Walaupun terdapat kekhawatiran tentang potensi konflik regional, Arab Saudi tetap fokus pada pertumbuhan ekonomi sesuai dengan program Vision 2030 yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan ekonomi negara pada pendapatan dari minyak.
Namun, IMF juga menginformasikan bahwa Arab Saudi telah "menyesuaikan kembali" beberapa proyek mega ambisiusnya. Salah satunya adalah Neom, sebuah proyek kota mega senilai $1,5 triliun yang diklaim akan 33 kali lebih besar dari Kota New York, dan mencakup kota sepanjang 170 km.
Program Putra Mahkota ini sangat tergantung pada pendapatan minyak. IMF memperkirakan bahwa Arab Saudi perlu harga minyak mencapai sekitar $96 per barel untuk menyeimbangkan anggarannya, yang lebih rendah sekitar $20 dibandingkan harga saat ini.
Saudi Arabia ekonomi konflik Gaza laporan IMF