Tucker Carlson, mantan pembawa acara dari Fox News, baru-baru ini mengundang seorang sejarawan amatir, Darryl Cooper, dalam acara bincang-bincangnya. Dalam wawancara tersebut, mereka membahas sejarah Perang Dunia II. Namun, hasilnya mengejutkan banyak orang.
Wawancara ini diterima sebagai suatu usaha untuk merayu ulang pandangan tentang Nazi, dimana Carlson, yang sekarang mengudara di Twitter/X, tidak memberikan banyak perlawanan terhadap pandangan Cooper. Bahkan, Carlson menyebut Cooper sebagai "sejarawan pop paling penting yang bekerja di Amerika Serikat saat ini". Ungkapan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang pandangan Carlson dan pengaruhnya dalam Partai Republik.
Pandangan Carlson menjadi ujian besar bagi Partai Republik. Meskipun Carlson telah tidak lagi berada di Fox News selama lebih dari satu tahun, ia tetap memiliki pengaruh yang signifikan dalam partai tersebut. Pada tahun 2024, ia menyampaikan pidato di Konvensi Nasional Republik dan dilaporkan berperan besar dalam pemilihan calon wakil presiden, JD Vance.
Sekarang, setelah Carlson melangkah ke batas yang sangat sensitif — dengan secara aktif meminta maaf atas tindakan Adolf Hitler — muncul pertanyaan besar. Apakah Partai Republik dapat memutuskan hubungan dengan Carlson?
Untuk saat ini, jawaban dari Partai Republik adalah tidak. Mereka masih mendukung Carlson dan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menjaraki dirinya dari pernyataan yang kontroversial itu. Situasi ini menunjukkan bagaimana pandangan sejarah dan politik bisa mempengaruhi bahkan hubungan dalam partai. Wawancara ini telah memicu diskusi yang lebih luas tentang tema besar, yaitu bagaimana masyarakat memahami dan menghargai sejarah, terutama yang berkaitan dengan peristiwa kelam seperti Nazi dan Perang Dunia II.
Tucker Carlson Perang Dunia II Nazi sejarah