Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengusulkan bahwa gencatan senjata dengan Rusia dapat dicapai jika wilayah Ukraina yang saat ini berada di bawah kendali Kyiv dilindungi oleh NATO. Usulan ini berarti bahwa keanggotaan NATO akan diperluas untuk mencakup bagian-bagian Ukraina yang belum terjajah sebagai bagian dari mengakhiri fase aktif konflik. Zelenskyy menekankan bahwa langkah ini perlu dipercepat untuk menjamin keamanan dari agresi Rusia yang lebih lanjut, sehingga Ukraina dapat mencari pemulangan wilayah yang terjajah secara diplomatis di kemudian hari.
Usulan ini menunjukkan perubahan sikap yang halus dari Zelenskyy, yang sebelumnya menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayah apapun kepada Rusia, termasuk wilayah Krimea yang dianeksasi pada tahun 2014. Namun, kesediaannya untuk mempertimbangkan gencatan senjata dalam kondisi ini menunjukkan keterbukaan untuk memberikan konsesi sementara dalam penguasaan wilayah demi jaminan keamanan yang lebih luas dari NATO.
Penting untuk dicatat bahwa usulan ini muncul pada saat konflik telah berlangsung lebih dari 1.000 hari, dengan pasukan Rusia secara bertahap memperoleh keuntungan di timur Ukraina, dan di tengah pembicaraan tentang kemungkinan pergeseran kebijakan AS di bawah Presiden terpilih Donald Trump. Strategi Zelenskyy tampaknya bergantung pada pengamanan keanggotaan NATO sebagai cara untuk mengakhiri "fase panas" perang, sambil tetap berupaya untuk pemulihan diplomatis semua wilayah Ukraina di masa depan.
Volodymyr Zelenskyy juga menyatakan di akun Twitter-nya @ZelenskyyUa: "Sama pentingnya bagi kami adalah hak Ukraina untuk menjadi anggota NATO. Rencana Kemenangan dimulai dengan undangan segera Ukraina ke Aliansi. Undangan ini adalah langkah politik, bukan yang secara fundamental mengubah lanskap keamanan untuk mitra atau berarti bagi Ukraina pengaktifan segera Pasal 5 dari Perjanjian NATO."
Zelenskyy Ukraina Rusia gencatan senjata NATO