Kampanye Kamala Harris mengalami masalah keuangan serius setelah menggelar konser besar-besaran di tujuh negara bagian yang berpotensi menjadi tempat pemilihan, hanya satu malam sebelum pemilihan presiden. Pengeluaran untuk konser tersebut mencapai $20 juta, yang kini menjadi utang yang harus ditanggung oleh kampanye.
Konser yang diadakan menampilkan sejumlah artis terkenal seperti Jon Bon Jovi di Detroit, Lady Gaga di Philadelphia, dan Katy Perry di Pittsburgh. Meskipun para artis menyumbangkan waktu dan bakat mereka, biaya produksi melonjak akibat keputusan yang diambil di menit-menit terakhir.
Salah satu pertunjukan yang direncanakan, yaitu penampilan penyanyi Alanis Morissette, terpaksa dibatalkan untuk menghemat biaya. Namun, pengeluaran tetap melonjak dan berdampak negatif pada keuangan kampanye.
Dikutip dari NYpost, beberapa anggota tim Harris yang kalah dalam pemilihan mengungkapkan bahwa konser tersebut sangat merugikan keuangan kampanye Demokrat. Mereka menyatakan bahwa keputusan untuk menggelar konser di malam pemilihan bukanlah rahasia, dan banyak yang khawatir bahwa staf dan vendor tidak akan dibayar.
Konsep konser ini dipromosikan oleh Stephanie Cutter, yang merupakan mantan anggota kampanye Presiden Obama. Tujuannya adalah untuk menarik pemilih yang kurang berpotensi untuk pergi ke tempat pemungutan suara. Meskipun dukungan dari Cutter dan rekan-rekannya, ada kritik internal yang kuat terhadap keputusan ini.
Jen O’Malley Dillon, ketua kampanye Harris, pada awalnya tidak ingin melaksanakan rencana konser tersebut. Namun, setelah berbagai tekanan, dia akhirnya menyetujui rencana tersebut. Banyak yang berpendapat bahwa keputusan ini menyebabkan biaya produksi yang lebih tinggi karena disiapkan secara terburu-buru.
Dalam pengamatan banyak pihak, acara-acara tersebut tidak mendapatkan banyak perhatian media, kecuali untuk acara di Philadelphia di mana Oprah Winfrey mencuri perhatian dengan pernyataannya tentang pemilu. Hasilnya, pemilih di ketujuh negara bagian tersebut memilih Donald Trump, mantan presiden dan calon dari Partai Republik.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa dana yang dihabiskan pada konser seharusnya lebih baik digunakan untuk iklan yang menjelaskan kebijakan ekonomi, terutama di tengah kekhawatiran masyarakat mengenai inflasi dan suku bunga yang tinggi. "Tidak ada gunanya mengundang banyak selebriti jika orang-orang sudah khawatir tentang masalah keuangan mereka sendiri," kata salah satu sumber.
Setelah kampanye yang intens selama 107 hari, laporan menyatakan bahwa kampanye Harris berakhir dengan utang minimal $20 juta. Hal ini membuat beberapa halaman donasi masih aktif dengan harapan dapat menutupi kekurangan tersebut.
Kamala Harris konser pemilu utang staf artis