Dalam berita mengejutkan yang terungkap hari ini, sebuah laporan menunjukkan bahwa penasihat Inggris untuk Wakil Presiden Kamala Harris telah terlibat dalam rencana untuk merusak Twitter, yang sekarang dikenal sebagai X, milik Elon Musk. Laporan ini diungkap oleh Paul D. Thacker dan Matt Taibbi, yang mengklaim bahwa Inggris, bukan Rusia, yang terlibat dalam upaya nyata untuk mengganggu pemilu.
Dokumen yang bocor berasal dari Center for Countering Digital Hate (CCDH), sebuah kelompok yang terhubung dengan Partai Buruh Inggris. Dalam dokumen tersebut, terdapat rencana yang jelas untuk "membunuh Twitter milik Musk." Prioritas tahunan mereka mencakup misi untuk merusak pendapatan Twitter dengan cara melakukan kampanye pengiklanan yang menakut-nakuti dan mempermalukan para pengiklan.
Di balik upaya ini adalah Morgan McSweeney, seorang tokoh kunci dalam kebangkitan kekuasaan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Laporan tersebut menunjukkan bahwa McSweeney berusaha untuk mereplikasi kesuksesannya di Inggris dengan menggunakan kendali narasi, pengaruh politik, dan sensor untuk mempengaruhi hasil pemilu 2024 di Amerika Serikat.
Lebih lanjut, bocoran tersebut menunjukkan bahwa CCDH telah mendorong adanya undang-undang baru untuk mengontrol "disinformasi." Namun, upaya ini sebenarnya bertujuan untuk memanipulasi legislasi di AS di bawah kedok melawan disinformasi.
Laporan ini sangat mencemaskan, mengungkapkan betapa besarnya ketidakpuasan para pemimpin dunia terhadap kebebasan berbicara dan aliran ide yang terbuka. Saat ini, siapa pun yang mengklaim melawan "disinformasi" seharusnya dipertimbangkan sebagai musuh, bukan teman.
Twitter Elon Musk Inggris pemilu disinformasi