Pada tanggal 20 Oktober 2024, serangan teroris terjadi di Ganderbal, Jammu dan Kashmir, yang menewaskan tujuh orang, termasuk seorang dokter bernama Dr. Shahnawaz. Serangan ini terjadi di lokasi konstruksi dekat Sonamarg, saat para pekerja sedang menjalankan tugas mereka.
Serangan tersebut diklaim oleh kelompok yang bernama The Resistance Front (TRF), yang merupakan cabang dari kelompok teroris Pakistan, Lashkar-e-Taiba. Ini menunjukkan perubahan strategi mereka dengan menargetkan baik penduduk lokal maupun non-lokal secara bersamaan.
Menanggapi kejadian ini, Menteri Dalam Negeri, Amit Shah, menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam serangan tersebut akan mendapatkan respons yang sangat keras dari aparat keamanan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap pelaku teror.
Selain itu, Ketua Menteri Omar Abdullah juga mengunjungi keluarga Dr. Shahnawaz di Budgam untuk menyampaikan ucapan duka cita. Kunjungan ini diliput oleh berbagai media dan media sosial, di mana ia mengekspresikan kesedihannya atas kejadian ini dan memastikan kepada keluarga bahwa keadilan akan dicari untuk mereka yang bertanggung jawab atas kematian Dr. Shahnawaz.
Serangan ini mendapat kecaman luas dari berbagai kalangan politik. Misalnya, Rahul Gandhi menyebut serangan ini sebagai tindakan pengecut dan tidak dapat dimaafkan. Kejadian ini memicu diskusi tentang langkah-langkah keamanan di daerah tersebut, terutama mengenai keselamatan warga sipil yang terlibat dalam proyek infrastruktur.
Serangan ini merupakan salah satu yang paling mematikan bagi warga sipil dalam beberapa waktu terakhir di wilayah tersebut. Hal ini mengangkat kekhawatiran tentang kebangkitan aktivitas militan dan efektivitas strategi keamanan yang ada di Jammu dan Kashmir.
Reaksi segera terhadap serangan ini menunjukkan kesedihan dan respons pemerintah serta masyarakat terhadap tragedi yang mengejutkan ini.
serangan teroris Ganderbal Dr. Shahnawaz Jammu dan Kashmir