Iran Serukan Perdamaian di PBB, Kritik Kebijakan AS
Pada sesi ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya perdamaian dan peran konstruktif Iran dalam urusan global. Dalam pidatonya, ia menekankan perlunya dialog tetapi juga mengkritik kebijakan Amerika Serikat (AS), terutama terkait sanksi dan masalah sejarah seperti pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani.
Dalam pidatonya, Pezeshkian secara langsung mengajak rakyat Amerika untuk memahami keluhan yang ada terhadap kebijakan AS. Ia menyebutkan bahwa sanksi dan tindakan militer yang dilakukan oleh AS telah memberikan dampak negatif bagi Iran. "Untuk dialog yang konstruktif, AS perlu mengubah pendekatannya terhadap Iran dan belajar dari sejarah," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa Iran terbuka untuk bernegosiasi, tetapi dengan syarat perubahan kebijakan dari Washington.
Sementara itu, mantan Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan pandangannya tentang Iran. Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan, "Iran dalam keadaan hancur ketika saya meninggalkan jabatan, dan saya tidak ingin mereka tetap hancur. Saya ingin mereka menjadi negara yang kuat. Namun, saya tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir. Itu sangat sederhana."
Trump juga menambahkan, "Saya ingin melindungi seluruh Timur Tengah. Saya benci melihat kematian yang terjadi di mana-mana. Orang-orang yang tidak terlibat dalam konflik pun terbunuh di kedua sisi. Tidak ada yang menginginkan itu. Kita harus melindungi semua orang."
Pesan dari Iran dan reaksi dari AS menunjukkan ketegangan yang masih ada di antara kedua negara. Sementara Iran berusaha untuk memperjuangkan hak-haknya dan mendesak dialog yang lebih baik, AS tampaknya tetap pada posisinya terkait program nuklir Iran. Situasi ini menggambarkan hubungan internasional yang kompleks dan penuh tantangan.
Iran PBB perdamaian kritik kebijakan AS