K.H. Ma’ruf Amin, seorang tokoh senior Indonesia, baru-baru ini mengucapkan terima kasih atas dukungannya kepada masyarakat setelah 53 tahun berkarir di dunia politik. Karir politiknya dimulai pada tahun 1971 ketika ia menjadi anggota DPRD Jakarta termuda pada usia 28 tahun. Sejarah mencatat bahwa pada saat itu, politisi muslim senior lainnya sepakat untuk menjadikan Ma’ruf Amin sebagai Ketua Fraksi Partai Islam di parlemen, meskipun ia baru saja memasuki dunia legislatif.
Selama karirnya yang panjang, K.H. Ma’ruf Amin dikenal sebagai sosok yang tidak pernah bolos rapat antara tahun 1971 hingga 1982. Ia menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap pemerintahan Golkar, yang dipimpin oleh Soeharto, serta Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Meskipun sering mengkritik, hubungan Ma’ruf Amin dengan Ali Sadikin terjalin dengan baik melalui diskusi-diskusi yang konstruktif.
Selain itu, K.H. Ma’ruf Amin juga memiliki hubungan yang unik dengan Soeharto. Mantan Presiden ini sering meminta pendapat objektif Ma’ruf Amin, terutama pada saat-saat penting. Bahkan saat Soeharto memutuskan untuk mengundurkan diri pada tahun 1998, ia mengundang K.H. Ma’ruf Amin dan beberapa tokoh muslim lainnya untuk dimintai pandangan mereka.
Di penghujung karirnya, Ma’ruf Amin mengungkapkan pesan perpisahan yang sederhana namun bermakna: "Di akhir jabatan saya, tidak perlu dipoles-poles, dilebih-lebihkan, di Personal Brandingkan, tidak perlu membuat kebohongan-kebohongan." Pernyataan ini menegaskan keinginan Ma’ruf Amin untuk meninggalkan jejak yang jujur dan transparan di dunia politik.
Dengan pengalaman yang kaya dan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia, K.H. Ma’ruf Amin akan dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah politik Indonesia.
K.H. Ma’ruf Amin karir politik DPRD Jakarta sejarah politik