Gaza - Yahya Sinwar, pemimpin Hamas, tewas dalam sebuah operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Israel di Jalur Gaza selatan. Operasi ini bertujuan untuk mendeteksi dan menyerang target-target penting, dan terjadi di kota Rafah, di mana Sinwar terlihat dan kemudian dibunuh pada tanggal 16 Oktober 2024.
Kematian Sinwar dianggap sebagai pukulan besar bagi Hamas, yang dapat mempengaruhi operasi dan moril mereka. Para pejabat Israel menyebutkan bahwa ini adalah kesempatan untuk melanjutkan operasi yang lebih luas melawan Hamas, dengan tujuan untuk membebaskan sandera dan melemahkan kemampuan militer Hamas lebih lanjut.
Walaupun ada pengakuan tentang kematian Sinwar, pernyataan dari Hamas menunjukkan bahwa mereka tidak akan terpengaruh. Mereka mengisyaratkan bahwa perubahan kepemimpinan dalam organisasi tidak akan menghentikan perjuangan mereka melawan Israel.
Hind Hassan, jurnalis yang terakhir kali melakukan wawancara satu lawan satu dengan Yahya Sinwar pada tahun 2021, menggambarkan Sinwar sebagai sosok yang "tegas" dalam keyakinan yang dimilikinya. Ia menambahkan bahwa saat bertemu, Sinwar terlihat "berjalan di jalanan dengan penuh percaya diri" saat Israel melakukan serangan udara di Gaza. "Dia tidak menghindar dari pertanyaan-pertanyaan sulit," kata Hind.
Dari sisi lain, Jackie Walker mengungkapkan pandangannya tentang kematian Sinwar. Ia menyebutkan bahwa Sinwar menampilkan sosok pahlawan dalam situasi yang sulit. "Dia adalah orang terakhir yang berdiri, sendirian di antara rekan-rekannya yang sudah tewas, melawan segala rintangan dengan keberanian luar biasa," ujarnya.
Dan Cohen, seorang analis, mengkritik tindakan Israel yang mempublikasikan rekaman saat Sinwar terakhir. Dalam rekaman itu, Sinwar terlihat mengenakan kufiyyeh dan terluka parah, namun tetap melawan dengan melemparkan tongkat ke arah drone yang merekamnya. "Dalam kematiannya, ia menjadi legenda," kata Cohen.

Sinwar dikenal sering mengaitkan tindakan dan pernyataannya dengan dimensi religius dan filosofis. Sebelum kematiannya, ia mengutip Imam Ali mengenai takdir dan nasib, menekankan bahwa kehidupan manusia memiliki dua jenis hari: satu di mana kematian tidak ditentukan untukmu, dan satu lagi di mana kematian adalah takdirmu.
Mohamad Elmasry, seorang profesor di Doha Institute for Graduate Studies, mengatakan bahwa jika laporan tentang kematian Sinwar terbukti benar, Hamas harus menjalani "masa regrouping" karena struktur kepemimpinan mereka telah "terdampak". "Setelah pembunuhan pemimpin Hamas sebelumnya, Ismail Haniyeh, kepala Shin Bet Israel menyatakan bahwa mereka akan memburu dan membunuh pemimpin Hamas di mana pun mereka berada," tambah Elmasry.
Yahya Sinwar Hamas operasi militer Gaza Israel