Sekitar 28 warga Palestina, termasuk anak-anak, tewas akibat serangan udara Israel di sebuah sekolah yang dijadikan tempat berlindung di jalur utara Gaza. Ini terjadi saat pasukan Israel melanjutkan serangan darat di wilayah tersebut. Menurut pejabat kesehatan Palestina, Medhat Abbas, serangan yang terjadi pada hari Kamis ini juga melukai sekitar 160 orang lainnya.
Abbas menggambarkan situasi yang sangat mengkhawatirkan. "Tidak ada air untuk memadamkan api. Tidak ada apa-apa. Ini adalah pembantaian," ujarnya. Ia menambahkan bahwa warga sipil dan anak-anak menjadi korban, terbakar dalam api.
Militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan anggota kelompok Hamas dan Jihad Islam Palestina, dengan menyatakan bahwa para pejuang tersebut beroperasi dari dalam Sekolah Abu Hussein di Jabalia, yang selama ini berfungsi sebagai tempat berlindung bagi orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Namun, militer Israel tidak memberikan bukti yang substansial untuk mendukung klaim tersebut. Mereka menyebut serangan itu sebagai "serangan yang tepat," meskipun istilah ini tidak menjelaskan secara rinci mengenai alasan atau target spesifik di dalam area sekolah.
Di sisi lain, Hamas membantah keras klaim tersebut. Mereka menyatakan bahwa sekolah yang dikelola oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) tidak digunakan untuk keperluan militer. Dalam sebuah pernyataan, Hamas menyebut tuduhan itu sebagai “kebohongan belaka” dan menambahkan bahwa ini adalah “kebijakan sistematis musuh untuk membenarkan kejahatan mereka.”
Kondisi di Gaza semakin memburuk mengingat serangan yang terus berlanjut, dengan banyak warga sipil yang menjadi korban tanpa adanya perlindungan. Situasi ini menimbulkan keprihatinan internasional dan menyerukan agar segera ada solusi untuk menghentikan kekerasan.
Israel Gaza serangan Palestina anak-anak kematian