Konflik Drone Hezbollah-Iran Meningkat, Banyak Korban Jatuh
Pada 13 Oktober 2024, Hezbollah melancarkan serangan drone yang menargetkan Brigade Golani Angkatan Pertahanan Israel di barak Zar'it dekat Binyamina, Israel. Serangan ini mengakibatkan setidaknya 61 personel militer terluka, dengan 4 orang tewas dan 7 lainnya mengalami luka serius. Ini merupakan bagian dari ofensif yang lebih besar, di mana Hezbollah menggunakan strategi penipuan dengan meluncurkan serangan rudal untuk mengalihkan perhatian pertahanan udara Israel, sehingga drone dapat masuk tanpa terdeteksi.
Serangan ini merupakan balasan atas serangan udara Israel di Lebanon yang menewaskan 22 orang. Drone buatan Iran digunakan dalam serangan ini, dan sistem pertahanan Iron Dome Israel tidak dapat menghadang serangan tersebut karena dinetralkan oleh serangan siber saat serangan rudal Iran terjadi. Jumlah korban dari serangan ini sangat tinggi.
Sebelumnya, pada 30 September 2024, setelah pembunuhan pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah dan beberapa lainnya, Iran meluncurkan serangan rudal besar-besaran ke Israel yang diberi nama Operasi Janji Suci 2. Serangan ini menargetkan berbagai lokasi di Israel, termasuk pangkalan militer dan area sipil, sebagai respon terhadap apa yang disebut Iran sebagai agresi Israel. Meskipun serangan ini besar, sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel.
Dalam konflik ini, kedua belah pihak menggunakan taktik canggih. Hezbollah memperkenalkan senjata baru seperti drone berisi bahan peledak, sementara Iran berusaha memanfaatkan celah dalam pertahanan Israel. Israel pun merespon dengan serangan yang bertujuan melemahkan kemampuan militer Hezbollah dan mengganggu suplai senjata Iran ke Lebanon.
Komunitas internasional, terutama Amerika Serikat, mengawasi situasi ini dengan cermat. Respons mereka menunjukkan fokus pada de-eskalasi, tetapi juga kesiapan untuk menghadapi konflik lebih lanjut jika diperlukan.
Konflik Hezbollah Iran Drone Israel Korban Militer