Iran telah meluncurkan serangan terbesar dalam sejarahnya terhadap Israel dengan menembakkan hampir 200 rudal balistik pada tanggal 1 Oktober. Serangan ini merupakan yang paling besar dan berani dibandingkan dengan serangan-serangan sebelumnya, termasuk serangan yang dilakukan Iran pada bulan April.
Dalam serangan terbaru ini, Iran menggunakan rudal yang lebih canggih dan memberikan sedikit peringatan sebelum meluncurkan serangannya. Hingga kini, kerusakan dan jumlah korban akibat serangan ini masih belum sepenuhnya diketahui. Namun, Israel telah bersumpah untuk memberikan tanggapan yang keras.
Para ahli mengatakan bahwa balasan dari Israel kemungkinan akan lebih kuat dibandingkan dengan serangan sebelumnya pada bulan April, ketika respons Israel tergolong lebih tenang. Hal ini disebabkan oleh skala serangan Iran yang lebih besar kali ini.
Ahli militer berpendapat bahwa mengingat keunggulan militer Israel, Iran kemungkinan akan terus menggunakan perang tidak konvensional dan kemampuan asimetrisnya. Ini termasuk jaringan yang dikenal sebagai "sumbu perlawanan", yaitu kelompok-kelompok militan yang membantu Iran dalam melawan Israel.
Fabian Hinz, seorang peneliti di International Institute for Strategic Studies (IISS), mengatakan bahwa peluncuran lebih dari 100 rudal balistik oleh Iran secara bersamaan adalah sesuatu yang "cukup luar biasa" karena melibatkan logistik dan tenaga kerja yang besar. "Saya tidak yakin apakah ini pernah dilakukan dalam perang sebelumnya dan ini membuat saya bertanya-tanya seberapa besar mereka bisa melakukannya," kata Hinz kepada Radio Farda.
Serangan pada 1 Oktober ini dianggap "sangat substansial" oleh Hinz. Bukti awal menunjukkan bahwa Iran menggunakan rudal balistik yang mencapai Israel hanya dalam hitungan menit. Tujuan dari serangan ini, menurut Hinz, adalah memberikan waktu yang terbatas bagi Israel untuk bersiap.
Selain keuntungan operasional dan intelijen yang dimiliki Israel, negara ini juga memiliki pencegahan nuklir. Israel diyakini memiliki senjata nuklir, dengan perkiraan sekitar 90 warhead nuklir menurut Nuclear Threat Initiative yang berbasis di Washington.
Pada serangan sebelumnya, yaitu pada 13 April, Iran menembakkan lebih dari 300 drone serta rudal jelajah dan balistik ke arah Israel. Iran mengklaim bahwa mereka tidak menggunakan beberapa senjata paling canggih yang dimiliki. Serangan tersebut tampak sangat terkoordinasi dan tidak dimaksudkan untuk menyebabkan kerusakan atau korban yang signifikan.
Saat itu, Israel menyatakan bahwa beberapa drone dan rudal berhasil dicegat dengan bantuan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Yordania. Beberapa rudal berhasil menerobos pertahanan Israel dan mengenai sebuah pangkalan udara, menyebabkan kerusakan kecil, menurut Angkatan Pertahanan Israel.

Perbandingan Kekuatan Militer Iran vs Israel
Secara keseluruhan, Iran umumnya dianggap memiliki keunggulan dalam hal teknologi dan kapabilitas tempur, sementara Israel memiliki keunggulan dalam jumlah sekutu militer dan ukuran wilayah yang lebih kecil. Namun, perbandingan langsung sulit dilakukan karena banyak faktor strategis dan geopolitik yang terlibat.
Iran memiliki sejumlah keunggulan dalam aspek militer dan geopolitik, termasuk wilayah yang luas dan beragam topografi yang mendukung pertahanan, serta angkatan bersenjata yang besar dengan sekitar 550.000 personel dan kekuatan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Program rudal balistik yang maju dan keahlian dalam perang asimetris, ditambah dengan jaringan kelompok militan di Timur Tengah, menambah kekuatan Iran. Selain itu, kemampuan industri pertahanan domestik dan posisi strategis di Selat Hormuz memberikan keuntungan tambahan. Iran juga memiliki sistem pertahanan udara yang berkembang, pengalaman dari konflik sebelumnya, serta kemampuan untuk bertahan di bawah sanksi internasional. Meskipun demikian, Iran tetap menghadapi tantangan seperti sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, dan kesenjangan teknologi dengan negara lain.
Dalam membandingkan kekuatan militer Iran dan Israel, ada beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan:
- Anggaran pertahanan:
Israel memiliki anggaran pertahanan yang lebih besar, sekitar 3-4% dari PDB-nya. Iran menghabiskan sekitar 2-3% PDB untuk militer. - Teknologi:
Israel dianggap memiliki keunggulan teknologi, dengan peralatan canggih dan sistem pertahanan rudal modern seperti Iron Dome. Iran juga memiliki program pengembangan senjata, tetapi menghadapi lebih banyak hambatan akibat sanksi internasional. - Personel:
Iran memiliki jumlah personel aktif yang lebih besar, sekitar 550.000 dibandingkan dengan 170.000 Israel. Namun, Israel memiliki sistem wajib militer yang menciptakan cadangan besar. - Kapabilitas nuklir:
Israel dipercaya memiliki senjata nuklir, meskipun tidak mengakuinya secara resmi. Iran memiliki program nuklir tetapi menyatakan itu untuk tujuan damai. - Geografi:
Iran memiliki wilayah yang jauh lebih luas, yang bisa menjadi keuntungan defensif. Israel lebih kecil tetapi memiliki pertahanan yang sangat maju. - Pengalaman tempur:
Kedua negara memiliki pengalaman konflik, dengan Israel terlibat dalam beberapa perang regional dan Iran aktif di Suriah dan Irak melalui proksi. - Dukungan internasional:
Israel memiliki dukungan kuat dari AS, sementara Iran lebih terisolasi secara diplomatik.
Iran Israel rudal balistik serangan militer