Albania telah mengumumkan rencana untuk melarang aplikasi TikTok selama satu tahun setelah terjadinya insiden tragis yang mengakibatkan seorang remaja tewas dalam sebuah pertarungan di dekat sekolah di Tirana bulan lalu. Pertarungan tersebut diduga berasal dari konfrontasi yang terjadi di media sosial.
Pengumuman ini disampaikan oleh Perdana Menteri Albania, Edi Rama, pada hari Sabtu setelah mengadakan pertemuan dengan kelompok orang tua dan guru dari seluruh negeri. Ia menekankan bahwa ada kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai pengaruh media sosial terhadap anak-anak.
"Kami akan mengusir penjahat ini dari lingkungan kami selama satu tahun," kata Rama dalam pertemuan tersebut.
Perusahaan yang memiliki TikTok, ByteDance, yang berpusat di Beijing, menyatakan bahwa mereka mencari "kejelasan mendesak" dari pemerintah Albania setelah pengumuman tersebut. TikTok membantah beberapa klaim bahwa pertarungan tersebut diorganisir melalui aplikasi media sosialnya.
"Kami tidak menemukan bukti bahwa pelaku atau korban memiliki akun TikTok," ujar juru bicara perusahaan. "Beberapa laporan bahkan mengonfirmasi bahwa video yang mengarah ke insiden ini diposting di platform lain, bukan TikTok."
Negara-negara di kawasan seperti Kosovo, Macedonia Utara, dan Serbia juga baru-baru ini melaporkan dampak negatif yang mereka kaitkan dengan platform ini, terutama di kalangan pemuda.
Selain itu, TikTok juga menghadapi tuduhan spionase di Amerika Serikat, dan sedang diselidiki oleh Uni Eropa atas klaim bahwa platform tersebut digunakan untuk mempengaruhi pemilihan presiden di Rumania demi mendukung kandidat sayap kanan.
Albania TikTok larangan anak-anak media sosial