Ribuan pengunjuk rasa di Georgia telah menggelar demonstrasi besar-besaran selama dua minggu terakhir. Mereka menentang pemerintah yang dianggap pro-Rusia di tengah krisis konstitusi yang melanda negara tersebut.
Pada minggu pertama, aksi demonstrasi diwarnai dengan tindakan keras dari pihak kepolisian. Polisi anti-huru hara bertindak brutal untuk membubarkan para pengunjuk rasa. Namun, tindakan kekerasan ini justru menarik lebih banyak orang untuk turun ke jalan.
Memasuki minggu kedua, taktik yang digunakan pihak kepolisian berubah. Mereka mulai tidak terlihat di lokasi demonstrasi, hanya mengawasi dari kendaraan yang terparkir. Hal ini memberikan kesempatan bagi para demonstran untuk bubar dengan tenang pada pagi hari.
Pemerintah Georgia kini berada dalam posisi yang sulit. Mereka berusaha untuk menekan demonstrasi dengan cukup keras agar para pengunjuk rasa tidak semakin banyak, tetapi tidak ingin menggunakan kekerasan yang berlebihan hingga memicu pemberontakan, seperti yang terjadi di Ukraina pada tahun 2014 ketika presiden pro-Rusia dijatuhkan.
Situasi ini menjadi perhatian banyak pihak, dan ada pertanyaan mengenai apakah protes ini akan mereda seiring liburan yang akan datang, atau justru semakin membesar.
Dengan ketegangan yang masih tinggi, banyak yang berharap pemerintah dapat menemukan solusi damai untuk mengatasi masalah ini.
Georgia protes pemerintah Rusia krisis demonstrasi