Mikheil Kavelashvili, mantan bintang sepak bola, baru saja terpilih sebagai presiden baru Georgia. Pemilihan ini dilakukan oleh lembaga pemilih yang disebut electoral college, yang terdiri dari anggota parlemen, dewan municipal, dan legislatif daerah. Kavelashvili adalah satu-satunya kandidat yang muncul dalam pemilihan ini, dan ia dikenal karena pandangan anti-Barat serta penolakannya terhadap hak-hak LGBTQ.
Dalam pemilihan tersebut, Kavelashvili memperoleh 224 suara dari total 300 suara yang ada. Kemenangan ini didukung oleh partai penguasa, Georgian Dream, yang sebelumnya juga memenangkan pemilihan parlemen pada bulan Oktober lalu. Namun, hasil pemilihan presiden ini tidak diterima oleh pihak oposisi yang memutuskan untuk memboikot pemilihan tersebut.
Oposisi mengklaim bahwa presiden saat ini, Salome Zourabichvili, yang merupakan pendukung kuat Uni Eropa, tetap merupakan kepala negara yang sah. Zourabichvili menolak untuk mundur, yang dapat menyebabkan ketegangan ketika penggantinya dilantik pada tanggal 29 Desember mendatang.
Sejak akhir Oktober, Georgia telah mengalami protes besar-besaran terhadap partai yang berkuasa. Kelompok oposisi menuduh Georgian Dream telah melakukan kecurangan dalam pemilihan parlemen dan merusak demokrasi di negara tersebut. Mereka juga mengkhawatirkan bahwa Georgia semakin mendekat ke pengaruh Rusia.
Kavelashvili sebelumnya merupakan penggagas undang-undang "agen asing" di Georgia, yang mirip dengan undang-undang yang diberlakukan di Rusia. Undang-undang tersebut mengharuskan organisasi yang menerima lebih dari 20% dana dari luar negeri untuk mendaftar sebagai "yang mengejar kepentingan kekuatan asing". Banyak yang melihat langkah ini sebagai cara untuk menekan kritik terhadap pemerintah.
Situasi politik di Georgia saat ini menunjukkan adanya perpecahan yang dalam antara pemerintah dan oposisi, yang berpotensi mengarah pada ketegangan lebih lanjut di masa depan.
Mikheil Kavelashvili presiden Georgia pemilihan oposisi protes