Tahun ajaran 2023 seharusnya menjadi momen yang menggembirakan bagi Afnan Khaled al-Shenbari, seorang siswi berusia dua belas tahun. Dia dengan antusias mengemas ransel baru berwarna pinknya untuk tahun terakhir di sekolah dasar. Namun, dua bulan setelahnya, ranselnya tidak lagi berisi alat tulis, melainkan pakaian karena dia dan keluarganya terpaksa melarikan diri dari rumah akibat serangan bombardir yang intens dari Israel.
Menurut laporan, lebih dari 600.000 siswa di Gaza, seperti Afnan, kini kehilangan akses pendidikan mereka untuk tahun akademik kedua berturut-turut. Perang yang terus berlangsung telah menyebabkan banyak sekolah di wilayah tersebut beralih fungsi menjadi tempat penampungan alih-alih sebagai tempat belajar. Hal ini mengakibatkan anak-anak terpaksa tetap berada di tingkat kelas yang sama selama dua tahun.
Situasi ini menciptakan dampak besar pada pendidikan dan perkembangan anak-anak di Gaza. Dengan tekanan yang terus berlangsung dari serangan dan pemindahan penduduk, masa depan pendidikan mereka menjadi semakin tidak pasti. Jika keadaan tidak berubah, banyak lagi anak-anak yang akan terjebak dalam siklus tanpa pendidikan yang layak.
Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk memahami bagaimana konflik dapat berpengaruh pada generasi muda yang seharusnya belajar dan berkembang dalam lingkungan yang aman. Pendidikan adalah hak dasar setiap anak, dan dengan situasi ketidakpastian yang terus ada, masa depan mereka terus dipertaruhkan.
Gaza perang siswa pendidikan Afnan Khaled al-Shenbari