Perang yang berlangsung antara Israel dan Gaza saat ini diperkirakan akan meninggalkan setidaknya 625.000 siswa tanpa akses pendidikan. Hal ini mengakibatkan mereka tidak hanya kehilangan satu tahun akademik tetapi juga memulai tahun ajaran baru dengan harapan untuk kembali ke sekolah yang hampir tidak ada.
Sejak 7 Oktober, situasi semakin mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan bahwa hampir 10.000 siswa dan lebih dari 400 guru serta staf pendidikan telah kehilangan nyawa mereka akibat serangan udara Israel. Angka ini mencerminkan dampak yang sangat besar terhadap komunitas pendidikan di wilayah tersebut.
Lebih dari 85% bangunan sekolah di Gaza telah mengalami kerusakan atau langsung terkena serangan. Ini menyulitkan upaya untuk melanjutkan pendidikan anak-anak di zona yang sudah terdampak hebat. Selain sekolah, semua 12 universitas di Gaza telah dibombardir atau dihancurkan, membuat pendidikan tinggi di wilayah tersebut terancam punah.
Dalam laporan dari UNRWA, setidaknya 563 pengungsi yang berlindung di fasilitas mereka telah tewas, dan lebih dari 1.790 orang lainnya dilaporkan terluka. UNRWA adalah badan PBB yang menyediakan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi Palestina.
Pihak berwenang Israel sering kali mengklaim bahwa serangan terhadap sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur sipil lainnya ditujukan kepada pejuang Hamas. Namun, mereka belum memberikan cukup bukti untuk mendukung klaim tersebut.
Saat situasi ini terus berlanjut, masa depan pendidikan di Gaza terlihat semakin kelam. Ketidakpastian ini mengancam bukan hanya pendidikan, tetapi juga masa depan generasi muda Palestina.
Pendidikan Gaza Perang Israel Krisis Siswa