Operasi militer Israel di Jenin dan wilayah sekitarnya di Tepi Barat yang diduduki telah memasuki minggu kedua, dan situasi bagi warga Palestina di daerah tersebut semakin memburuk.
Pemerintah kota Jenin mengungkapkan bahwa sebanyak 70 persen jalan di kota tersebut telah diratakan menggunakan buldoser, serta 80 persen rumah kini tidak mendapatkan pasokan air. Hal ini tentu sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga yang bergantung pada air untuk kebutuhan dasar.
Selain itu, sekitar 20 kilometer jaringan air dan saluran pembuangan, serta kabel komunikasi dan listrik telah dihancurkan. Kehilangan infrastruktur ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat dalam mendapatkan akses terhadap layanan penting.
Menurut kementerian kesehatan Palestina, 33 warga Palestina telah kehilangan nyawa sejak dimulainya invasi terbesar Israel ke Tepi Barat sejak Intifada Kedua. Dari jumlah tersebut, 19 orang di antaranya berasal dari Jenin. Tragisnya, tujuh di antara mereka adalah anak-anak, termasuk seorang gadis Palestina berusia 16 tahun, Lujain Musleh, yang ditembak mati oleh pasukan Israel di kota Kafr Dan pada hari Selasa lalu.
Nidal al-Obaidi, walikota Jenin, menggambarkan kondisi kota saat ini sebagai pemandangan yang mirip dengan aftermath (kondisi setelah) gempa bumi. “Kami tidak menerima informasi apa pun dari kamp pengungsi karena pengepungan yang ketat serta pemutusan akses listrik, air, dan komunikasi,” ujar Obeidi.
Area yang paling parah terdampak adalah kawasan timur, di mana terdapat kamp pengungsi Jenin. Wilayah alun-alun komersial, yang dianggap sebagai jantung kota Jenin, kini hancur total. Aktivitas belanja di daerah tersebut telah terhenti, dan banyak toko yang hancur, diratakan, atau dibakar.”
Selain itu, krisis pangan dan obat-obatan juga semakin akut, menyisakan banyak warganya dalam kesulitan besar.
Jenin konflik Israel keadaan Palestina operasi militer