Baru-baru ini, sebanyak 95 warga Libya yang dideportasi dari Afrika Selatan terlibat dalam program pelatihan militer untuk pasukan di bawah komando Khalifa Haftar, yaitu Angkatan Bersenjata Arab Libya (LAAF). Hal ini terungkap dari laporan media lokal yang memantau situasi tersebut.
Para pria tersebut ditangkap pada tanggal 26 Juli setelah pihak berwenang menemukan mereka sedang menjalani pelatihan di sebuah lokasi yang digunakan sebagai kamp militer rahasia di provinsi Mpumalanga, dekat perbatasan dengan Mozambik. Hanya beberapa hari setelah penangkapan, mereka dideportasi kembali ke Libya.
Menurut informasi dari beberapa sumber yang tidak disebutkan namanya, pelatihan ini berlangsung secara daring (via webcam) dengan instruktur dari pasukan Haftar, yang sebelumnya dikenal sebagai Tentara Nasional Libya. Beberapa di antara mereka adalah mantan pejuang yang tergabung dalam kelompok teror ISIS, yang dilaporkan menerima imbalan untuk bergabung dengan LAAF.
Para pegawai media mengungkapkan bahwa pelatihan yang diberikan meliputi keterampilan bertahan di laut, terjun payung, dan menembak. Sumber yang berbicara kepada surat kabar Rapport menambahkan bahwa pelatihan dilakukan dengan menggunakan senjata kayu. Hal ini dilakukan karena instruktur khawatir bahwa senjata api yang asli dapat digunakan terhadap mereka.
Kasus ini menunjukkan adanya kegiatan militer yang tidak biasa dan potensi ancaman yang lebih besar terkait keamanan di wilayah tersebut. Meskipun informasi ini diambil dari beberapa sumber, penting untuk dicatat bahwa laporan ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Latihan militer Libya Khalifa Haftar Afrika Selatan