Dalam sebuah analisis yang dibagikan secara eksklusif kepada WIRED, terungkap bahwa lebih dari setengah dari postingan panjang berbahasa Inggris di LinkedIn, yang dimiliki oleh Microsoft, ditulis menggunakan model bahasa besar seperti ChatGPT dari OpenAI atau Claude dari Anthropic. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam menulis konten di platform media sosial semakin meningkat.
LinkedIn sendiri menyatakan bahwa mereka tidak melacak berapa banyak postingan di situs mereka yang ditulis atau diedit dengan alat AI. Namun, Adam Walkiewicz, kepala "feed relevance" di LinkedIn, menjelaskan bahwa mereka memiliki sistem yang kuat untuk secara proaktif mengidentifikasi konten berkualitas rendah serta konten yang sama atau hampir sama. "Ketika kami mendeteksi konten semacam itu, kami mengambil tindakan untuk memastikan bahwa konten tersebut tidak dipromosikan secara luas," ujarnya.
Di sisi lain, beberapa orang menentang keras penggunaan model bahasa besar yang dilatih dengan buku, situs web, dan karya lain yang ditulis manusia tanpa izin atau kompensasi. Menurut mereka, alat-alat ini dapat merendahkan nilai tulisan manusia. Penentangan ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang bagaimana AI dapat memengaruhi industri penulisan dan kreativitas manusia.
Adanya perdebatan ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi AI menawarkan kemudahan dalam menciptakan konten, ada tantangan etis yang harus dihadapi. Apakah penggunaan AI dalam menulis akan menjadi hal yang biasa, atau justru membuat tulisan manusia semakin berharga? Ini adalah pertanyaan yang perlu kita renungkan di era digital saat ini.
Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam media sosial, penting bagi kita untuk memahami bagaimana teknologi ini bekerja dan dampaknya terhadap cara kita berkomunikasi. Seiring dengan perkembangan teknologi, kita juga harus menjaga kualitas dan orisinalitas dalam tulisan kita.
LinkedIn AI model bahasa besar ChatGPT Claude