Kota Batu, Jawa Timur, mengalami peningkatan produksi sampah yang signifikan, mencapai 158 ton per hari saat musim liburan. Peningkatan ini menciptakan berbagai tantangan dalam pengelolaan sampah di daerah tersebut.
Saat ini, kota ini hanya memiliki 18 Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPS3R) yang tersebar di 24 desa dan kelurahan. Dengan jumlah TPS yang terbatas, infrastruktur yang ada tidak mampu menampung volume sampah yang terus meningkat.
Selain itu, penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung pada tahun 2023 juga telah memicu masalah baru. Banyak warga yang melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, yang mengakibatkan kebakaran lahan dan polusi udara di sekitar. Hal ini tentu saja mengancam kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Menurut sebuah kajian, ada beberapa kelemahan dalam tata kelola sampah di Kota Batu. Salah satunya adalah minimnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Selain itu, ada juga masalah seperti ketidakkonsistenan dalam penerapan regulasi dan kurangnya transparansi data dari pihak pemerintah.
Dengan meningkatnya urgensi masalah ini, diperlukan langkah-langkah nyata dari semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan organisasi terkait. Kerja sama yang baik sangat penting untuk mengatasi krisis sampah ini demi melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat di Kota Batu.
Penting bagi warga untuk lebih aktif dalam mengelola sampah, mulai dari memilah sampah di rumah dan ikut serta dalam program pengelolaan sampah yang ada. Dengan begitu, diharapkan Kota Batu bisa kembali bersih dan nyaman untuk ditinggali.
Kota Batu sampah liburan pengelolaan lingkungan