Dalam sebuah pidato di televisi, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan bahwa pemerintahnya telah setuju untuk melakukan gencatan senjata guna mengakhiri perang yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon. Gencatan senjata ini diharapkan dapat mengurangi ketegangan yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.
Netanyahu menyatakan bahwa meskipun mereka siap untuk menghentikan pertempuran, Israel akan "menanggapi dengan keras setiap pelanggaran" terhadap kesepakatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Israel tetap waspada dan siap untuk bertindak jika ada pihak yang tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata.
Konflik antara Israel dan Hezbollah telah menyebabkan banyak kerugian. Menurut pejabat setempat, lebih dari 3.823 orang telah kehilangan nyawa akibat pertempuran ini, menjadikannya sebagai salah satu konflik terburuk yang dialami Lebanon dalam beberapa dekade terakhir.
Pertikaian ini dimulai dengan tembakan lintas perbatasan yang terjadi sejak Oktober 2023, namun eskalasi terjadi pada akhir September ketika Israel meningkatkan serangan udara dan meluncurkan invasi darat terbatas. Keputusan gencatan senjata ini diambil sebagai langkah untuk menghentikan kekerasan yang telah berlangsung lama.
Lebih lanjut, Netanyahu menjelaskan bahwa mengakhiri pertempuran dengan Hezbollah di Lebanon akan memungkinkan Angkatan Pertahanan Israel untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas di Gaza dan fokus pada "ancaman dari Iran". Dengan demikian, gencatan senjata ini tidak hanya berdampak pada situasi di Lebanon, tetapi juga pada keamanan di wilayah sekitarnya.
Gencatan senjata ini akan mulai berlaku pada pukul 02:00 GMT (04:00 waktu setempat) pada hari Rabu. Masyarakat di kedua belah pihak berharap agar kesepakatan ini dapat membawa perdamaian dan mengurangi penderitaan yang dialami oleh rakyat Lebanon dan Israel.
Israel Hezbollah gencatan senjata konflik Lebanon