Ramallah – Dalam beberapa hari terakhir, warga Ramallah mengungkapkan kesulitan tidur bukan karena ancaman serangan, tetapi karena aktivitas konstruksi yang dilakukan oleh pemerintah kota setempat hingga larut malam. Di saat Gaza mengalami kehancuran dan rakyatnya menghadapi penderitaan yang tak terkatakan, pemerintah daerah di Ramallah memilih waktu yang tidak tepat untuk melakukan perbaikan infrastruktur.
Aktivitas yang sedang berlangsung ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kepemimpinan lokal, mengingat pada masa Intifada Pertama, pemerintah kota memiliki peran penting dalam membangun perlawanan. Mereka mampu mengoordinasikan tindakan ketidakpatuhan sipil dan membantu masyarakat untuk bertahan hidup di tengah kesulitan. Namun, situasi saat ini menunjukkan bahwa semangat tersebut hampir menghilang.
Sejak beberapa tahun terakhir, relevansi Otoritas Palestina (PA) semakin dipertanyakan. Pada saat kondisi darurat seperti sekarang, ketidakberdayaan PA terlihat jelas. Sementara itu, pemerintah dan lembaga-lembaganya tampak melanjutkan aktivitas seolah-olah tidak ada yang terjadi. Hal ini menciptakan kesenjangan antara kehidupan sehari-hari dan kenyataan pahit yang dihadapi masyarakat.
Meski restoran, kafe, dan bar tetap buka, serta anak-anak pergi ke sekolah, banyak warga yang merasa bahwa kegiatan tersebut bukan tanda kehidupan normal. Mereka merupakan cara untuk mengatasi ketegangan dan trauma kolektif yang dirasakan. Masyarakat merasa terjebak dalam keadaan yang tidak menentu, berpegang pada rutinitas sambil menunggu peristiwa selanjutnya dalam krisis yang berkepanjangan ini.
Suasana di Ramallah kini terasa seperti suasana apokaliptik. Berbeda dengan Gaza yang menghadapi serangan langsung, di Ramallah, kehidupan secara perlahan terhapus, harapan dan kehidupan tercekik oleh kenyataan yang ada. Warga berusaha untuk terus melanjutkan hidup, tetapi di dalam hati mereka, ada rasa kehilangan yang mendalam.
Ramallah Gaza konstruksi kehidupan sehari-hari PA